Aspirasi Indonesia-GNAI Serukan Taubatan Nasuha Nasional dalam Peringatan Hari Anti Islamofobia Dunia

oppo_2

Jakarta, Neropong.com – Seruan Taubatan Nasuha Nasional menggema dalam peringatan Hari Anti Islamofobia Dunia yang digelar oleh Aspirasi Indonesia bersama Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) di Aula Lantai II Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta Pusat, Minggu 15 Maret 2026.

Momentum yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini menjadi ajakan moral bagi bangsa Indonesia untuk kembali memperbaiki diri dan memperkuat nilai keimanan dalam menghadapi berbagai krisis sosial dan moral.

Sekjen GNAI Ustaz Abu Taqi Mayestino, menyampaikan, peringatan Hari Anti Islamofobia Dunia bukan sekadar agenda seremonial, tetapi momentum refleksi untuk melawan kebencian terhadap Islam sekaligus memperbaiki kehidupan bangsa.

“Acara ini kerjasama antara Aspirasi Indonesia dengan GNAI untuk menyambut Hari Memerangi Islamofobia Internasional atau Day To Combat Islamophobia, sesuai mandat PBB. Setiap 15 Maret,” ujar Ustaz Abu Taqi.

Ia mengingatkan, lahirnya peringatan internasional ini tidak terlepas dari tragedi penembakan terhadap jemaah Muslim di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru pada 2019 yang menewaskan 51 orang.

“Berdasarkan pembantaian atas 51 Muslimin kecil hingga tua di dua masjid, di kota Christchurch, Selandia Baru. Yang dilakukan oleh seorang radikalis-ekstrimis Kristen Australia bernama Brenton H. Tarrant,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena Islamofobia dapat muncul dari berbagai arah, bahkan di tengah masyarakat Muslim sendiri.

“Juga atas keprihatian di NKRI yang bermayoritas Muslim pun, ada Islamofobia. Islamofobia bisa datang dari luar Muslimin. Juga bisa datang dari dalam kaum Muslimin sendiri, yang masih fobia terhadap ajaran Islam,” katanya.

Anggota Presidium Nasional GNAI ini juga menegaskan, Islam merupakan agama tauhid yang telah hadir sejak awal sejarah manusia melalui para nabi dan rasul.

“Padahal Islam adalah agama sejak awal zaman, dengan 124.000 nabi dan rasul, dalam Ketuhanan Yang Maha Esa (Tawhid) murni,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ustaz Abu Taqi mengingatkan nilai ketuhanan telah menjadi fondasi negara Indonesia.

“Padahal di pasal 29 ayat 1 UUD 1945, ditegaskan: Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang ini juga menjadi Sila I Pancasila. Dan nama ‘Allah’ ada di Pembukaan UUD 1945,” ujarnya.

Deklarasi Taubatan Nasuha Nasional

 

Pada sesi penutupan, para peserta membacakan Deklarasi Gerakan Taubatan Nasuha Nasional sebagai komitmen moral untuk memperbaiki kehidupan bangsa. Deklarasi tersebut menegaskan lima poin utama.

Pertama, integritas pribadi, yaitu memperbaiki diri dan membersihkan hati dengan menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak mulia dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa.

Kedua, persatuan hakiki, yakni menjaga persatuan dalam keberagaman serta menolak segala bentuk kebencian, perpecahan, dan permusuhan.

Ketiga, melawan penindasan, yaitu menolak ketidakadilan, penindasan, serta segala bentuk penjajahan demi menjaga martabat dan kemerdekaan manusia.

Keempat, perang terhadap korupsi, dengan melawan penyalahgunaan kekuasaan serta menjunjung tinggi integritas dan amanah rakyat.

Kelima, mewujudkan keadilan sosial, yakni menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanpa diskriminasi.

Dalam deklarasi tersebut juga ditegaskan komitmen untuk menjadikan Taubatan Nasuha sebagai gerakan moral bangsa serta mengajak seluruh elemen masyarakat agar berani menyuarakan kebenaran dan menjadikan moralitas sebagai panglima dalam kehidupan bernegara.

Hadirkan Tokoh Nasional dan Santunan Yatim
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum Aspirasi Indonesia Wati Salam, tokoh nasional Alfian Tanjung, M. Hatta Taliwang, serta akademisi dan pakar hukum Eggi Sudjana.

Selain itu hadir pula tokoh GNAI Nazar Haris, penulis buku Islamofobia Zulkarimein Nasution, Sekjen Dai Rantau Minang Dalmilus Sumagek, pengacara Muslim Meidy Juniarto, serta mualaf asal Inggris Ashley Welsh.

Kegiatan juga dihadiri anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa binaan sejumlah lembaga sosial seperti Muhammadiyah dan Aisyiyah serta santri dari Pondok Pesantren Imam Syafi’i Ciomas.

Selain diskusi dan musyawarah, kegiatan ini juga diisi dengan santunan kepada anak yatim dan dhuafa sebagai bentuk kepedulian sosial dalam momentum Ramadan.

Melalui peringatan tersebut, para peserta berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya Islamofobia semakin meningkat sekaligus memperkuat moralitas, keimanan, dan persatuan bangsa. []

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *