- WisataKepala BPJPH : Serapan Anggaran 2025 Capai 99,2 Persen, Presiden Prabowo Siapkan 1,35 Juta Sertifikat Halal Gratis 2026
- ArtikelGaldan Bencana Sumatera, Pendidikan Karakter Santri Peduli Sesama
- PalestinaKetua Presidium AWG Ucapkan Belasungkawa atas Wafat Abu Ubaida
- CeritaSalman Alfarisi: Tugas Kemanusiaan dan Doa Anak yang Tak Sempat Mengantar Ibu ke Pemakaman
- BeritaSebanyak 200 Orang Suku Tau Taa Wana Ikrarkan Syahadat di Pedalaman Gunung Tua
- FenomenaSukimang dan Cangkir Bekam di Tengah Luka Aceh Tamiang
- KonspirasiImplementasi Wajib Halal adalah Bagian dari Upaya Mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo
- DaerahPersada 212 Lepas Tim Reaksi untuk Pemulihan Air Bersih di Aceh Tamiang
- EkonomiDengungkan Kebaikan, BRI Kanca Cimanggis Salurkan Bantuan kepada Dhuafa dan Anak Yatim
- WisataKepala BPJPH: Presiden Prabowo Gratiskan 1,35 Juta Sertifikat Halal bagi Usaha Mikro dan Kecil di Tahun 2026

Galdan Bencana Sumatera, Pendidikan Karakter Santri Peduli Sesama
Lampu lalu lintas di Tugu Raden Intan memerah pada Rabu (31/12) siang. Deru mesin kendaraan berhenti serempak. Di sela klakson yang tertahan dan panas aspal yang memantul ke wajah, beberapa santri berpenampilan sederhana melangkah maju. Di tangan mereka, kotak donasi. Di dada mereka, sepotong harapan untuk korban bencana di Sumatera.
Mereka bukan pengamen. Bukan pula relawan profesional berseragam lengkap. Mereka adalah santri Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung, yang memilih turun ke jalan melalui program Santri Al-Fatah Peduli bersama Lembaga Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) dan alumni-alumni pesantren yang tergerak membantu saudaranya sesama Sumatera.
Dari bawah lampu-lampu merah Kota Bandar Lampung—Tugu Raden Intan, Way Halim, Sukarame, hingga Tugu Adipura—para santri ini menggalang kepedulian publik untuk saudara-saudara mereka yang tertimpa bencana.
Bagi sebagian orang, pesantren identik dengan kesunyian, kitab kuning, dan rutinitas ibadah di balik pagar. Namun siang itu, stigma itu runtuh di tengah keramaian kota. Para santri berdiri di ruang publik paling bising: persimpangan jalan.
Dengan wajah berkeringat dan senyum yang terus dijaga, mereka menyapa pengendara. Tak ada paksaan. Tak ada teriakan. Hanya poster kecil bertuliskan kepedulian dan tatapan mata yang jujur. “Ini untuk korban bencana di Sumatera, Pak… Bu…,” ucap seorang santri lirih namun mantap.
Lampu merah hanya memberi waktu beberapa detik. Dalam waktu sesingkat itu, para santri menggantungkan harapan: semoga ada tangan yang tergerak, semoga ada hati yang terbuka. Dana yang terkumpul dari lampu-lampu merah Bandar Lampung ini tidak berhenti di meja administrasi. Bantuan tersebut rencananya akan disalurkan langsung ke lokasi bencana oleh santri-santri jebolan ponpes Al-Fatah sendiri yang sejak awal hingga saat ini masih berada di medan bencana tergabung dalam lembaga UAR.
Di balik hiruk-pikuk penggalangan dana, tersimpan cerita-cerita kecil yang sarat makna kemanusiaan. Salah satunya datang dari Penni Pebi Astinna, santri kelas 5 MA Al-Fatah asal Negara Ratu Natar. Dengan suara yang tenang namun penuh perasaan, Penni mengisahkan kegelisahannya sejak pertama kali mendengar kabar banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bagi Penni, musibah itu bukan sekadar peristiwa alam, melainkan luka yang dirasakan oleh saudara-saudara sendiri. Dia menuturkan bahwa kondisi di medan bencana sangat memprihatinkan. Kabar tentang minimnya bahan makanan, rumah-rumah yang hancur diterjang banjir, hingga adanya keluarga yang belum ditemukan membuat hatinya terguncang.
Setiap informasi yang ia dengar menghadirkan bayangan tentang penderitaan yang mungkin tak sanggup ia lihat secara langsung. “Kami membayangkan bagaimana mereka bertahan hidup di tengah keterbatasan,” ucapnya, lirih.
Rasa empati dan simpati itulah yang kemudian menggerakkan Penni dan santri lainnya untuk ikut berperan. Ia merasa apa yang dirasakan korban bencana juga ia rasakan—ketakutan, kesedihan, dan kehilangan. “Mereka saudara kita, seiman, sebangsa, dan setanah air,” kata Penni. Baginya, perbedaan jarak dan wilayah tak seharusnya menjadi penghalang untuk saling menolong ketika musibah datang.
Kesedihan Penni semakin terasa setiap kali melihat foto dan laporan kondisi para korban bencana. Rasa sakit itu, menurutnya, menjadi salah satu dorongan terkuat untuk terjun langsung menggalang dana. Ia menyadari bahwa kepedulian tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, sekecil apa pun yang bisa dilakukan.
Di pesantren, Penni mengaku telah lama diajarkan tentang pentingnya kepedulian sosial dan empati terhadap sesama. Nilai-nilai itu selama ini ia pelajari di ruang kelas melalui nasihat dan pelajaran para ustadz. Namun, bencana Sumatera menjadi momentum baginya untuk benar-benar mengamalkan apa yang selama ini diajarkan. “Sekarang ini waktunya kami mempraktikkan pelajaran itu,” ujarnya mantap.
Keinginan Penni tidak berhenti pada penggalangan dana semata. Ia menyimpan harapan besar untuk suatu hari bisa melihat langsung kondisi korban bencana. Ia ingin mengetahui seperti apa kesulitan yang mereka alami, bagaimana kehidupan mereka pascabencana, dan apa lagi yang bisa dibantu. “Kalau ada kesempatan ke sana, saya siap berangkat. Mau banget,” tuturnya, dengan mata berbinar meski diwarnai keprihatinan.
Cerita serupa juga datang dari Cahaya Balqis Zabrina, santri asal Way Kandis, Bandar Lampung. Balqis yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Santri Al-Fatah Rescue (SAFARES) mengungkapkan bahwa dirinya pernah diajarkan bagaimana bersikap sebagai seorang rescuer—seseorang yang hadir untuk menolong sesama di masa darurat. Menurutnya, saat ini Aceh, Sumatara Utara, Sumatera Barat masih berada dalam masa tanggap darurat yang membutuhkan lebih dari sekadar bantuan materi.
Cahaya menyimpan keinginan kuat untuk bisa terjun langsung ke lokasi bencana. Ia ingin menyalurkan bantuan secara langsung kepada para korban, melihat kondisi mereka dari dekat, dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan. Baginya, kehadiran relawan di tengah korban juga menjadi bentuk penguatan mental dan dukungan emosional.
Tak hanya itu, Cahaya juga ingin memberikan kontribusi dengan cara yang sederhana namun bermakna. Ia berharap bisa mengajarkan anak-anak korban bencana mengaji, menemani mereka, dan menghadirkan hiburan kecil untuk mengurangi trauma yang mereka rasakan. “Minimal menghibur anak-anak korban bencana,” katanya, penuh harap.
Meski bencana telah berlalu hampir satu bulan, Penni dan Cahaya masih mendengar kabar bahwa banyak korban yang kekurangan bantuan. Kondisi ini semakin menguatkan tekad mereka untuk terus bergerak dan mengajak masyarakat peduli.
Bagi para santri Al-Fatah, penggalangan dana ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan cerminan pendidikan nilai kemanusiaan yang hidup di pesantren—bahwa kepedulian sejati lahir dari hati, diajarkan dengan keteladanan, dan diwujudkan melalui aksi nyata. Di sinilah pendidikan karakter bekerja tanpa ruang kelas.
Di balik gerakan penggalangan dana yang diinisiasi oleh UAR dan melibatkan para santri, terdapat arah dan nilai yang sengaja ditanamkan oleh pimpinan pondok. Mudir Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung, Ustadz M. Iqbal, M.Pd.I, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan semata respons spontan atas bencana, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter santri sejak dini.
Menurutnya, kepedulian dan empati sosial harus dilatih agar santri peka terhadap musibah dan penderitaan saudara-saudara mereka, khususnya di berbagai daerah Sumatera yang kerap dilanda bencana.
Ustadz Iqbal menjelaskan bahwa pondok berupaya mendidik santri untuk mengamalkan ajaran Islam secara nyata, bukan berhenti pada teori di ruang kelas. Nilai ta‘āwun atau saling tolong-menolong, ukhuwah Islamiyah, serta kepedulian kemanusiaan ditanamkan melalui aksi langsung yang bisa dirasakan manfaatnya.
“Santri perlu dibiasakan bahwa ajaran Islam hidup dalam perbuatan,” ujarnya, seraya menekankan bahwa dakwah tidak melulu di atas mimbar-mimbar khutbah, tetapi juga melalui tindakan.
Lebih jauh, kegiatan penggalangan dana ini juga dimaksudkan sebagai sarana melatih karakter tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan santri. Dengan terlibat langsung dalam kegiatan sosial, santri diajak untuk berperan aktif di tengah masyarakat, belajar mengorganisasi diri, serta memahami bahwa mereka memiliki peran dan kontribusi bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai inilah yang diharapkan menjadi bekal mereka ketika kelak terjun di tengah umat.
Selain membentuk kepekaan sosial santri, Ustadz Iqbal menyebut kegiatan ini juga bertujuan membiasakan santri untuk berinfak dan bersedekah. Tak hanya itu, pondok juga ingin mengajak masyarakat sekitar untuk ikut berpartisipasi dalam kebaikan bersama. Menurutnya, kepedulian adalah nilai kolektif yang perlu terus dihidupkan, terlebih di saat saudara-saudara sebangsa tengah dilanda musibah.
Program Santri Al-Fatah Peduli lahir dari kesadaran kolektif pesantren bahwa bencana bukan sekadar berita—ia adalah jeritan nyata yang harus dijawab dengan aksi. Dan dari kegiatan seperti inilah nilai pendidikan tumbuh.
Para santri belajar komunikasi publik. Belajar menjaga adab di ruang terbuka. Belajar menundukkan ego demi tujuan yang lebih besar. Mereka tidak sekadar meminta, tetapi menyampaikan pesan kemanusiaan.
Program Santri Al-Fatah Peduli bukan sekadar kegiatan penggalangan dana. Ia lahir dari kesadaran bahwa santri tidak boleh terkurung dalam tembok pesantren. Santri harus hadir di tengah masyarakat, merasakan denyut persoalan umat, dan mengambil peran nyata.
Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung sejak awal menanamkan visi besar: membentuk individu muslim yang utuh—berilmu, berakhlak, tangguh, dan peduli. Kepedulian sosial bukan tambahan, melainkan bagian dari kurikulum kehidupan.
Kehadiran santri di lokasi bencana menegaskan satu hal: santri bukan penonton dalam sejarah kemanusiaan. Mereka adalah pelaku. Dari masa ke masa, santri selalu hadir di titik-titik krisis—baik krisis moral, sosial, maupun kemanusiaan.
Program Santri Al-Fatah Peduli menjadi bukti bahwa pesantren mampu melahirkan generasi yang responsif terhadap persoalan zaman. Santri tidak gagap menghadapi realitas. Mereka justru ditempa untuk terjun langsung, membawa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Di tengah citra sebagian generasi muda yang individualistis, langkah para santri ini menjadi penyejuk. Mereka mengingatkan bahwa empati masih hidup, dan kepedulian masih bisa tumbuh di tengah kesibukan kota.
Program ini bukan hanya tentang membantu korban bencana di Sumatera. Ia adalah proses panjang pembentukan karakter. Tentang bagaimana santri belajar menjadi manusia yang peka, tangguh, dan siap berkontribusi untuk masyarakat.
Dari bawah lampu merah Bandar Lampung, santri Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah menyalakan api kecil kepedulian. Api itu mungkin tampak sederhana, tetapi jika terus dijaga, ia akan menjadi cahaya—cahaya yang menerangi jalan kemanusiaan, jauh melampaui sekat ruang dan waktu.
Redaksi
17 Okt 2025
Hari itu, 31 Agustus 2025. Di antara deru kendaraan di Terminal Bus Metro Permai, Makassar, tampak sosok muda berkerudung rapi tengah menenteng tas besar. Ia adalah Aini Hafifah, seorang da’iyyah (pendakwah perempuan) yang bersiap menuju Kabupaten Tana Toraja, wilayah pegunungan yang dikenal dengan masyarakat mayoritas non-Muslim. Langkahnya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati, menyalakan …
admin
06 Agu 2024
Berikut adalah sedikit cerita mengenai perjalanan melihat rumah Si pitung. Ya, jagoan dari Betawi itu. Mungkin Anda sudah sering mengenal mendegar ceritanya atau juga telah melihat filmnya. Ok.. akan Saya ulas profil mengenai pahlawan satu ini. Si Pitung adalah seorang pejuang asal Betawi, ia dikenal sebagai sosok pendekar Jakarta dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh …
admin
05 Agu 2024
Masjid Al A’lam adalah salah satu dari 12 obyek destinasi wisata pesisir di Jakarta Utara, letaknya berada persis di pesisir pantai Marunda. Konon Masjid Al Alam itu dibangun hanya dalam tempo semalam pada sekitar abad 16 dan termasuk salah satu masjid yang tertua di Jakarta. Wisata religi dengan menelusuri jejak Islam di Jakarta, melalui peninggalan …
admin
25 Jan 2021
Nasehat Rasulullah Tentang Anjuran Memuliakan Istri. Seorang istri tentu hendaklah dapat mengurus semua kebutuhan sang suami. Sebaliknya, bagi istri merupakan suatu kebahagiaan terbesar dalam hidupnya ketika memiliki suami yang sholeh dan senantiasa memperlakukannya dengan baik. Sebagai seorang suami pun demikian, hendaknya mampu membahagiakan dan memuliakan istri, yang merupakan kebanggaan dan kebahagiaan pula dari dirinya. Dalam …
30 Nov 2021 38.050 views
Bandung, MINA – AWG (Aqsa Working Group) Gelar Forum Diskusi Masjid Al-Aqsa dan Palestina bertema ‘Millennial Peacemaker Forum’ pada Ahad (28/11) di Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika No. 65, Kota Bandung, Jawa Barat. Gedung Merdeka adalah situs sejarah tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang lalu diikuti 29 negara, salah satunya utusan Palestina. Saat ini hanya …
02 Nov 2021 5.625 views
Surah Ad-Duha بِسْــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِـــــــــــــــــــــــيمِ (1) Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), وَالضُّحَىٰ (2) dan demi malam apabila telah sunyi, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (3) Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ (4) dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ (5) Dan sungguh, …
01 Agu 2018 4.645 views
Peperangan antara rakyat Palestina dengan zionis Israel tidak kunjung dan berhenti sejak Israel pertama masuk ke Palestina tahun 1948 silam. Para pejuang palestina silih berganti muncul dari generasi ke generasi. Mereka terus memberi perlawanan memepertahankan tanah air mereka yang dijajah Zionis Israel. Keberanian para pejuang Palestina tersebut tidak perlu diragukan lagi, semangat dan keyakinan mereka …
07 Okt 2021 4.463 views
Dalam benak saya pribadi dan mungkin saja juga para pembaca sekalian bertanya-tanya apa Penjelasan Gaya Rambut dan Topi Jas Orang Yahudi. Sedikit kami akan ulas melalui hasil browsing di bawah ini ; Gaya Rambut Orang Yahudi Sering kali kita melihat gaya orang Yahudi baik di televisi atau pun media online dengan gaya rambut bagian dekat …
24 Jul 2024 4.035 views
Sejarah suku Betawi adalah kisah yang kaya dan beragam, mulai dari era kerajaan kuno hingga menjadi bagian integral dari Jakarta modern. Orang Betawi, yang merupakan penduduk asli Jakarta, memiliki warisan budaya yang beragam, terbentuk melalui pengaruh berbagai kerajaan, bangsa, dan era yang berbeda. Artikel ini akan mengeksplorasi perjalanan sejarah suku Betawi dari zaman Kerajaan Salakanagara …
Comments are not available at the moment.