Oleh: Tim Jurnalis Indonesia Global Peace Convoy (IGPC)
Krisis kelaparan di Jalur Gaza mencapai titik kritis, dengan seluruh populasi yang berjumlah sekitar 2,1 juta jiwa kini berada dalam ancaman kelaparan ekstrem. Data terbaru menunjukkan puluhan warga Palestina meninggal dunia akibat kelaparan dalam sepekan terakhir, sementara puluhan ribu lainnya—terutama anak-anak dan perempuan—dalam kondisi sangat rawan.
Kelaparan Meluas, Distribusi Bantuan Terhambat
Menurut laporan World Food Programme (WFP) tertanggal 21 Juli 2025, sepertiga penduduk Gaza tidak makan selama beberapa hari berturut-turut. Seluruh wilayah kini diklasifikasikan berada pada tingkat “Darurat” atau “Kritis” dalam sistem Integrated Food Security Phase Classification (IPC). Kota Gaza dan wilayah utara menjadi daerah terdampak terparah, dengan minimnya distribusi bantuan dalam beberapa minggu terakhir.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 12 Mei 2025 mencatat hampir 500.000 warga Gaza berada dalam kondisi kelaparan ekstrem dan menghadapi risiko kematian. Meski status resmi kelaparan belum diumumkan, WHO menegaskan bahwa kematian akibat kekurangan gizi telah terjadi.
Laporan UN News pada 21 Juli 2025 menyebutkan bahwa operasi kemanusiaan PBB di Gaza menjadi salah satu yang paling terhambat dalam sejarah modern, terutama akibat pembatasan logistik dan kekerasan di titik distribusi bantuan.
Puluhan Tewas, Anak-Anak Paling Rentan
Pada 20 Juli 2025, Al Jazeera melaporkan bahwa 19 warga Palestina meninggal akibat kelaparan, sementara 67 lainnya tewas saat mencoba mengakses bantuan pangan selama akhir pekan. Di antara korban, 79 orang ditembak di wilayah utara dan 13 di selatan saat mendekati konvoi bantuan.
Salah satu korban paling memilukan adalah Razan Abu Zaher, anak berusia empat tahun yang meninggal akibat komplikasi kelaparan di Gaza Tengah, seperti diberitakan oleh CNN.
Sejak pecahnya konflik pada 2023, setidaknya 71 anak dilaporkan tewas akibat malnutrisi. WHO menyatakan bahwa sejak diberlakukannya blokade pada 2 Maret 2025, sedikitnya 57 anak meninggal karena kekurangan gizi—angka yang diyakini masih di bawah kenyataan. UN News menyebut hampir 100.000 perempuan dan anak-anak kini menderita malnutrisi akut berat dan membutuhkan intervensi segera.
Blokade Israel Jadi Penyebab Utama
Blokade ketat yang diberlakukan Israel sejak awal Maret 2025 dianggap sebagai faktor utama memburuknya krisis. Menurut WHO, hanya kurang dari 10% dari kebutuhan harian sebanyak 100 truk bantuan yang berhasil masuk sejak pertengahan Mei 2025. WFP menambahkan bahwa pengiriman ke Gaza utara hampir sepenuhnya terhenti.
Di lapangan, kekerasan juga memperburuk keadaan. Laporan Al Jazeera menyatakan bahwa pasukan Israel menembaki warga yang mengantre bantuan, menyebabkan puluhan kematian. Sementara itu, program distribusi yang didanai Amerika Serikat melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF) dikritik tajam karena dinilai tidak efektif dan merendahkan penerima bantuan. Laporan PBB bahkan menyebut sistem ini sebagai “jebakan kematian yang sadis.”
Pada 18 Desember 2023, Human Rights Watch menyatakan bahwa Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, melanggar hukum internasional. Kepala Ekonom WFP, Arif Husain, pada Januari 2024 menuduh Israel secara sistematis menghalangi akses bantuan kemanusiaan.
Tanggung Jawab dan Reaksi Internasional
Pada 9 Juli 2024, para ahli PBB menuduh Israel menjalankan “kampanye kelaparan yang ditargetkan.” Laporan The New York Times pada 14 Mei 2025 bahkan menyebut adanya pengakuan dari pejabat militer Israel bahwa Gaza berada di ambang kelaparan, meski secara publik hal ini dibantah.
Pemerintah Amerika Serikat turut dikritik karena dukungannya terhadap GHF dan pasokan senjata ke Israel. Organisasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) menyatakan bahwa keterlibatan AS membuat mereka ikut bertanggung jawab dalam memburuknya krisis.
Sementara itu, meskipun pihak bersenjata non-negara seperti Hamas disebutkan dalam laporan UN News karena menghambat akses bantuan, tanggung jawab utama menurut hukum internasional tetap berada pada Israel sebagai kekuatan pendudukan.
Seruan Mendesak Dunia Internasional
Krisis kemanusiaan yang terus berkembang di Gaza memicu seruan dari berbagai organisasi internasional untuk segera membuka akses bantuan dan menghentikan penderitaan warga sipil. Tanpa langkah nyata, jumlah korban jiwa diperkirakan akan terus meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan kelompok rentan lainnya.
> “Ini bukan hanya tragedi kemanusiaan—ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” ujar salah satu pejabat kemanusiaan PBB yang enggan disebutkan namanya.
Sumber: WHO, WFP, UN News, Al Jazeera, CNN, Human Rights Watch, The New York Times, The Washington Post, CAIR, Wikipedia.
Penulis: Tim Jurnalis Indonesia Global Peace Convoy (IGPC)






