Bab sebelumnya: Lidya Mau Bunuh Diri
Kaki kanan Lidya sudah menginjak landasan hampa saat Marli melihat ke arahnya. Tubuh Lidya pun bergerak miring perlahan menuju posisi luncuran.
Posisi Marli yang cukup pas, bisa membuatnya langsung bertolak berlari, lalu melompat seiring jatuhnya tubuh Lidya. Lompatan kucing Marli mendarat tepat di bibir atap gedung. Separuh badan Marli keluar batas.
Tap!
Berhasil. Marli berhasil menangkap pergelangan tangan Lidya. Namun, upaya penyelamatan itu belum berhasil, sebab tangkapan itu justru membuat tubuh Marli ikut tertarik ke bawah.
“Lai …!” pekik Arya terkejut dan cepat berlari ke pinggir.
Setibanya di pinggir, Arya melongok. Dilihatnya Marli bergantung dengan satu tangan di pinggiran atap. Sementara tangan kanan kanannya menahan tangan Lidya agar tidak lepas sehingga bisa jatuh ke bawah.
Lidya tidak menjerit lagi. Ia sudah tidak sadarkan diri. Sementara di bawah sana, suasana begitu sepi.
“Anbi! Cepat tarik saya!” teriak Marli yang mulai kelelahan bergantung dengan satu tangan, ditambah beban yang beratnya hampir dua kali lipat berat badannya.
Zerzzz!
Ketika Arya menyentuh lengan kanannya dengan tangan kiri, tiba-tiba tubuhnya diselimuti oleh sinar kuning api. Sinar yang memercik itu keluar dari bawah telapak kaki lalu naik menyelimuti seluruh tubuh. Hal itu terjadi sangat singkat, hanya sekejap.
Usai itu, lenyaplah sosok Arya Kalanbi. Kini yang berdiri di atap itu adalah sosok pemuda tampan berambut kaku lancip-lancip berwarna putih semua. Tubuhnya tinggi besar tidak berbaju, memperlihatkan dada yang bidang, perut berotot kotak-kotak, lengan besar berlekuk-lekuk, dan berleher beton. Pemuda besar bertubuh kekar itu mengenakan celana merah dengan sabuk dari tali berwarna kuning. Sepatunya berwarna hitam bertali sampai ke betis turut mengikat ujung celana.
Sosok itu adalah tokoh Harzai yang bernama Sov, jelmaan Arya Kalanbi. Dengan memiliki Permata Harzai, Arya bisa merubah sosoknya menjadi Harzai seperti yang tampil sekarang ini.
Sososk Sov lalu bergerak meraih tangan Marli. Tenaganya yang besar, membuat Sov dengan mudah menarik beban dua tubuh perempuan itu ke atas. Sebentar saja, Marli sudah berhasil naik. Sov ambil alih menarik tubuh Lidya.
Perubahan sosok Arya Kalanbi ke sosok Sov, tidak membuat Marli terkejut, seolah ia sudah kenal sosok aneh itu.
“Padahal, saya pernah mimpi jadi pacar dia,” kata Sov dengan suara Arya.
“Memang kamu kenal dia?” tanya Marli seraya pergi duduk ke kursi semen.
“Tidak, kan hanya mimpi. Sayang betul jika orang cantik harus mati.”
“Sudah, baringkan di situ saja, nanti juga bangun sendiri. Untung tidak ada yang melihat,” kata Marli seraya hempaskan napas kelegaan.
Sov lalu membaringkan tubuh Lidya begitu saja di lantai atap bersiram cahaya matahari. Kejap berikutnya, Sov telah malih rupa kembali menjadi sosok Arya Kalanbi lengkap dengan seragamnya tanpa kurang satu apa pun. Arya menatap sejenak wajah Lidya yang terpejam.
“Hei! Jangan mikir jorok!” hardik Marli yang mengejutkan Arya.
Arya jadi salah tingkah dituding seperti itu. Ia hanya menyengir kuda sambil garuk kepala yang tidak gatal. Akhirnya ia memilih memungut kantong plastik yang berisi gorengan hangat. Kemudian ia duduk berhadapan dengan Marli di kursi batu. Marli meraih kantong itu dan mengambil satu gorengan.
“Kamu kenal dia, Lai?” tanya Arya kepada Marli.
“Namanya Lidya, primadonanya 11B. Hidupnya sumpek oleh masalah. Makanya, dia mau tenang dengan cara mati.”
“Allah masih sayang sama dia, Lai. Kita datang tepat waktu. Jam segini seharusnya kita ada di kelas, tapi Allah mengatur semuanya, Lai,” kata Arya bijak bernuansa religius.
“Benar itu, Pak Ustaz,” kata Marli mengangguk, membuat Arya jadi tertawa kecil disebut “Pak Ustaz”.
Marli dan Arya seharusnya memang berada di kelas pada jam itu. Sehubungan karena guru biologi tidak masuk, Marli dan Arya memilih pergi bersantai di markas besar tongkrongan mereka, yaitu di tempat itu. Padahal, tugas guru biologi digantikan oleh Ibu Daniya, guru biologi kelas 11.
Marli Sisilia, Arya Kalanbi dan Baharuddin adalah tiga sahabat yang menamakan dirinya Hunter Z. Biasanya mereka bertiga. Namun pada hari ini, Baharuddin absen.
“Nanti pulang kamu jenguk Udin Goplax, saya mau urus Lidya,” kata Marli.
“Sebaiknya serahkan saja ke Dewan Guru, Lai,” saran Arya.
“Saya rasa masalah Lidya terlalu buruk untuk dipublikasikan ke kalangan para guru. Masalahnya terlalu komplit.”
Marli lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompet kecilnya. Uang itu ia berikan kepada Arya.
“Lebihnya buat kamu,” kata Marli.
Marli adalah orang bertipe royal. Ia suka memberikan uang untuk keperluan teman-temannya. Uang yang diberikan kepada Arya bermaksud membelikan buah tangan untuk Baharuddin yang sedang sakit.
Marli segera menghampiri tubuh Lidya ketika melihatnya mulai bergerak siuman. Marli menepuk-nepuk pipi gadis itu. Lidya membuka matanya. Wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik Marli, selanjutnya wajah Arya di belakang kepala Marli. Sadar dirinya belum mati, meledaklah tangis Lidya. (RH)
Bersambung ke: Tawaran Marli Sisilia by Rudi Hendrik





