Bab sebelumnya: Kabar Buruk untuk Lidya
Di rooftop bangunan sekolah tingkat tiga tersebut tidak ada siapa-siapa kecual Lidya yang naik ke atas di saat jam pelajaran sedang berlangsung.
Di satu tempat hanya ada tempat duduk panjang dari semen serta dilengkapi atap kecil secukupnya, hanya untuk meneduhi dua tempat duduk semen itu dari sinar matahari.
Cerahnya langit dan damainya angin tidak mampu mempengaruhi irama kelamnya hati Lidya. Hal yang ditatapnya adalah Jakarta yang luas dengan ramainya jalan raya dan tinggi-tingginya gedung pencakar langit.
Lidya tidak mau duduk menikmati pemandangan hangat yang ada. Lidya tidak tertarik untuk berteduh di bawah atap seraya menikmati semilirnya angin Ibu Kota. Ia lebih tertarik untuk berjalan dan berdiri tepat di pinggiran atap gedung. Dari titik itu, ia bisa lebih leluasa memandang ke depan dan ke bawah sana. Di bawah, terhampar lapangan bersemen yang luas, tapi sepi. Saat itu, semua warga sekolah berada di kelasnya masing-masing.
Kini, tinggal separuh telapak sepatu Lidya yang menginjak tepian atap gedung. Oleng sedikit, Lidya akan terjun bebas tanpa parasut. Detak jantung yang tadi berhenti, kini berlari kencang. Entah mengapa, tidak ada rasa takut di hatinya berdiri di ketinggian lima lantai itu. Kini Lidya bisa melihat “satu jalan” yang dimaksudnya, yaitu satu jalan pintas yang bisa membawanya bebas dari segala permasalahan yang menghimpit hidupnya, yaitu bunuh diri.
Tinggal menghitung mundur detik-detik melompatnya gadis cantik belia itu.
“Lidya!”
Betapa terkejutnya Lidya saat ada suara yang menyebut namanya dari belakang. Jantungnya nyaris copot. Namun, hal itu tidak membuatnya meluncur jatuh. Ditengoknya ke belakang.
Ada seorang siswi berambut panjang, cantik berkulit bersih berhidung mungil tapi mancung. Ia sudah duduk berteduh di kursi semen, beberapa meter dari Lidya berdiri. Sikapnya santai, seolah-olah tidak terganggu atau bermasalah jika Lidya berdiri di sana.
Lidya mengenal anak kelas 10A itu, karena ia cukup populer di kalangan guru dan para siswa/siswi. Ia dikenal bernama Marli Sisilia. Gadis bertubuh mungil itu dikenal sebagai anak orang kaya dan ibunya punya kedudukan penting di yayasan pemilik sekolah tersebut.
“Kamu sedang apa, Lid?” tanya Marli, seolah tidak paham dengan apa yang dilakukan Lidya dan apa risikonya.
“Saya mau lompat, saya mau mati!” jawab Lidya dengan nada tinggi dan wajah bersimbah air mata.
“Emmm, sombong sekali,” kata Marli dengan mimik mengejek.
Lidya hanya menatap gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu. Ia tidak paham maksud perkataan Marli.
“Memangnya kamu sudah punya bekal apa sampai berani-berani menantang malaikat penjaga neraka? Jika kamu lompat, satu dua tiga hitungan, urusan selesai. Empat lima enam, malaikat kubur menyiksa kamu. Tujuh delapan sembilan, malaikat neraka menghabisi kamu. Sepuluh, kamu kekal di neraka,” ujar Marli.
Lidya terdiam mendengar penuturan Marli yang begitu santai.
“Tidak ada untungnya menjadi artis terkenal setelah mati,” kata Marli lagi.
“Jangan mengejek saya, Mar!” teriak Lidya menghardik. “Kamu tidak megerti apa yang saya rasakan, apa yang menimpa saya. Saya begitu menderita, Mar. Saya begitu tersiksa. Ayah, Ibu, kakak-kakak saya, sampai orang yang saya cintai pun, hanya memberi kehancuran. Saya tidak tahan, Mar!”
“Mati justru awal penderitaan abadi buat kamu, jika kamu mati bunuh diri!” debat Marli.
“Tidak, mati adalah akhir dari penderitaan saya. Saya memang anak sial, perempuan sial! Huuu…!” kata Lidya lalu tangisnya meledak lagi.
Dari tangga, naik seorang murid lelaki berambut kering berwarna kemerahan, sebab terlalu sering terjemur di bawah matahari. Ia berwajah cukup tampan untuk ukuran lelaki berkulit sawo matang. Ia pun berseragam putih abu-abu. Ia membawa sekantong gorengan di plastik putih transparan. Ia bernama Arya Kalanbi, sahabat kental Marli dan teman sekelas.
“Hei!” teriak Arya begitu terkejut melihat seorang siswi nekat berdiri di pinggir atap gedung. Arya kenal muka dengan siswi itu, tapi tidak kenal nama. Buru-buru Arya berlari ke arah Lidya sambil berteriak, “Hei! Jangan lompat, nanti jatuh!”
Tindakan Arya yang berlari mendekati Lidya, membuat Marli terkejut pula. Buru-buru Marli melompat menyambar lengan Arya dan menahannya agar tidak mendekati Lidya yang jadi panik juga.
“Lai, dia mau lompat bunuh diri!” teriak Arya marah, karena merasa digagalkan oleh sahabatnya.
“Tapi tindakan kamu justru mempercepat dia melompat!” bisik Marli geregetan kepada Arya.
“Lai! Dia lompat!” teriak Arya panik, tapi hanya melotot saja melihat ke arah Lidya.
Kaki kanan Lidya sudah menginjak landasan hampa saat Marli melihat ke arahnya. Tubuh Lidya pun bergerak miring perlahan menuju posisi luncuran.
Posisi Marli yang cukup pas, bisa membuatnya langsung bertolak berlari, lalu melompat seiring jatuhnya tubuh Lidya. Lompatan kucing Marli mendarat tepat di bibir atap gedung. Separuh badan Marli keluar batas.
Tap!
Berhasil. Marli berhasil menangkap pergelangan tangan Lidya. Namun, upaya penyelamatan itu belum berhasil, sebab tangkapan itu justru membuat tubuh Marli ikut tertarik ke bawah.
“Lai…!” pekik Arya terkejut dan cepat berlari ke pinggir. (RH)
Bersambung ke: Harzai Sov, Bab3 Harzai by Rudi Hendrik





