Jakarta, Neropong.com – Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) atau akrab disebut dengan Jakarta Islamic Centre (JIC) kembali menggelar Islamic Digital Fest.
Untuk 2025 ini, acara yang dilaksanakan selama dua hari, Senin-Selasa, 29-30 September 2025 di sebuah hotel di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, mengangkat tema “Transformasi Dakwah Masjid Masa Kini: Dari Mimbar Konvensional ke Panggung Digital”.
Kepala Divisi Komunikasi dan Penyiaran JIC, H. Afifuddien, mengatakan, Islamic Digital Fest 2025 diikuti oleh sekitar 75 peserta utusan dari Islamic Centre atau Masjid Raya seluruh Indonesia. Peserta berasal dari Aceh hingga Makassar, Sulawesi Selatan.
“Islamic Digital Fest hadir bagi insan kreatif yang bertemu dalam ruang kolaborasi, membangun dunia digital agar sesuai dengan nilai Islam,” kata Afifuddien dalam sambutan pembukaan Islamic Digital Fest 2025 di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Senin sore (29/09).
Ia juga menjelaskan, melalui tema yang diangkat, JIC ingin agar masjid-masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga pusat peradaban Islam yang adaptif terhadap kemajuan teknologi.
Kepala JIC KH Muhyiddin Ishaq dalam sambutannya mengakui, saat ini dakwah Islam kalah dalam hal “marketing”. Menurutnya metode dakwah yang dilakukan oleh orang-orang Islam sudah ketinggalan. “Metode dari panggung ke panggung, sekarang sudah era digital,” kata Kiai Muhyiddin.
Aplikasi media sosial yang saat ini sedang mendominasi dunia informasi, dinilai Kiai Muhyiddin memiliki dua wajah. Wajah manfaat sekaligus musibah. Bermanfaat jika dimanfaatkan untuk dakwah dan menjadi musibah jika digunakan untuk menyebarkan fitnah. “Menjadi ahlul fitnah wal jama’ah,” kelakarnya.
Karena itu, Ketua Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta ini mengajak umat Islam untuk bermedsos dengan cara yang benar, sehingga menjadi manfaat bukan musibah.
Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, mengatakan, dakwah dan teknologi adalaha dua hal yang bisa bersinergi. Ia mendorong agar aktivitas dakwah dilakukan dengan cara-cara yang mengikuti perkembangan teknologi. “Dakwah Islam rahmatan lil alamin dengan sentuhan inovasi digital,” kata Ali. ·
Digitalisasi dakwah, kata Ali, juga sejalan dengan semangat Jakarta yang akan menjadi Kota Global dengan standar kota-kota lain di dunia.
“Jakarta diharapkaan jadi kota jasa, kota perekonomian, yang standarnya adalah kota lain di dunia, bukan di kota-kota di Indonesia,” kata dia.
Jakarta, lanjut mantan Wali Kota Jakarta Utara itu, juga akan menjadi kota yang cerdas, memiliki daya saing, berakar pada nilai-nilai dan budaya Betawi yang akarnya adalah Islam. []






