Lumajang, Neropong.com – Warga Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang hingga kini masih menanti realisasi relokasi yang dijanjikan pemerintah daerah pasca musibah hanyutnya seorang siswi SD di Sungai Regoyo pada Februari lalu.
Hingga pertengahan April 2026, janji tersebut belum juga terwujud, sementara risiko keselamatan warga tetap tinggi.
Dusun Sumberlangsep sendiri diketahui termasuk dalam kawasan merah atau zona rawan bencana di sekitar Gunung Semeru, yang kerap terdampak aliran lahar dan material vulkanik saat terjadi erupsi maupun hujan di wilayah puncak.
“Hingga kini relokasi yang dijanjikan pemerintah daerah belum terealisasi. Sementara warga masih terancam bahaya saat menyeberangi sungai dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Ahmad Samiludin, relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Jawa Timur, Sabtu 18 April 2026
Menurut Ahmad, kondisi di lapangan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Warga yang beraktivitas dari dan menuju wilayah sekitar, termasuk Desa Sumberwuluh, masih harus menyeberangi aliran sungai tanpa jembatan permanen.
Dalam beberapa waktu terakhir, banjir lahar kembali terjadi dan bahkan merobohkan sebuah mushola di Dusun Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Sungai-sungai yang berhulu dari lereng Gunung Semeru kerap meluap membawa material vulkanik, terutama saat hujan turun.
Kesulitan akses jalan juga menjadi persoalan serius. Warga Dusun Sumberlangsep menuju Desa Sumberwuluh dan sebaliknya masih harus mempertaruhkan keselamatan saat melintasi jalur sungai.
“Bahkan, pada Rabu 15 April warga terpaksa menggotong anggota keluarganya yang sakit sejauh sekitar satu kilometer melintasi jalur lahar menuju Puskesmas Candipuro karena tidak adanya akses yang aman,” ungkap Ahmad.
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru sendiri masih tergolong tinggi. Gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl) tersebut dilaporkan mengalami erupsi berkala, bahkan dalam hitungan jam, dengan semburan abu vulkanik dan aliran lahar yang terus mengancam wilayah di sekitarnya.
Berdasarkan keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada Sabtu 18 April 2026 terjadi tujuh kali letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 800 meter.
Material erupsi yang terbawa air hujan menjadi pemicu utama banjir lahar dingin yang melintasi alur sungai, termasuk Sungai Jugosari.
“Hampir tiap dua jam terjadi erupsi. Saat hujan turun, banjir lahar mengalir deras melewati Sungai Kobokan dan anak-anak sungai lainnya,” tambah Ahmad, yang kerap membagikan rekaman video aktivitas Gunung Semeru kepada sesama relawan.
Di tengah kondisi tersebut, kepedulian sosial terus ditunjukkan para relawan.
Ahmad Samiludin bersama masyarakat dan relawan lain saat ini tengah melakukan perbaikan rumah milik Mbah Karsih, seorang lansia yang hidup sebatang kara di desa yang berjarak sekitar 15 kilometer dari kawasan Gunung Semeru.
Rumah Mbah Karsih yang berada di dekat Pos Pemantauan Gunung Sawur kondisinya nyaris roboh. “Kami bersama relawan lain terus berupaya melakukan hal yang bermanfaat untuk sesama. Alhamdulillah, dalam beberapa waktu terakhir cuaca relatif mendukung sehingga proses perbaikan berjalan lancar. Namun kami masih membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berdonasi,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera merealisasikan relokasi ke tempat yang lebih aman, mengingat Dusun Sumberlangsep berada di kawasan rawan bencana yang setiap saat terancam lahar dan erupsi.
Selain relokasi, pembangunan infrastruktur dasar seperti jembatan penyeberangan dinilai mendesak guna meminimalkan risiko korban jiwa di masa mendatang. [AM].






