Marli segera menghampiri tubuh Lidya ketika melihatnya mulai bergerak siuman. Marli menepuk-nepuk pipi gadis itu. Lidya membuka matanya. Wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik Marli, selanjutnya wajah Arya di belakang kepala Marli. Sadar dirinya belum mati, meledaklah tangis Lidya.
“Saya mau mati! Saya mau mati menyusul Alvin!” ratap Lidya.
Pak!
Satu tamparan keras diberikan oleh Marli ke wajah Lidya. Sontak Lidya terdiam mendelik sembari sesegukan.
“Kamu kira gampang mau mati?!” bentak Marli keras. “Ayo bangun!”
Marli menarik bangun tangan Lidya. Lidya hanya menurut, tapi tetap menangis.
“Kalau kamu minta mati lagi, saya lempar kamu ke bawah!” ancam Marli. Lalu katanya kepada Arya, “Bi, tolong air minum.”
Tanpa ba bi bu lagi, Arya bergegas menuju tangga. Ia harus turun ke kantin untuk minta air minum.
“Nih, makan!” Marli sodorkan plastik gorengannya.
Sambil sesegukan, Lidya mengambil satu gorengan lalu memakannya.
“Siapa pacar kamu?” tanya Marli.
“Alvin.”
“Oh ya, saya kenal mukanya. Kenapa dia?”
“Ditembak polisi.”
“Narkoba?”
Lidya menjawab dengan anggukan.
“Memang sudah telat?”
“Iya.”
“Berapa bulan?”
“Tiga.”
“Alvin tahu kamu sudah ngisi?”
“Tahu.”
“Siapa lagi?”
“Kamu.”
“Saya beruntung dong,” kata Marli lalu tertawa kecil. “Kamu juga beruntung, bakal punya anak di usia muda.”
Perkataan Marli itu membuat Lidya berhenti mengunyah dan menatap gadis cantik di depannya. Lima hitungan terdiam, meledak kembali tangis Lidya, sehingga gorengan di mulutnya berjatuhan. Marli membuka kedua tangannya, menawarkan pelukan pelipu lara. Lidya pun menenggelamkan tangisnya dalam pelukan Marli.
Marli berkata demikian bukan berarti Marli tidak memahami perasaan Lidya yang remuk hancur lebur seperti botol dilindas buldoser. Marli hanya bermaksud menghibur dengan sedikit candaan yang nyatanya gagal.
“Tenangkan dirimu. Setiap manusia pernah mengalami saat-saat masa krisis pijakan dan pegangan. Jangan memilih mati, itu hal terbodoh yang akan pernah dipilih oleh manusia,” bisik Marli di belakang kepala Lidya, mencoba menenangkan. “Jika kamu tidak sanggup melalui ini seorang diri, maka ajaklah saya untuk membantumu lewati masa-masa burukmu.”
Lidya melepaskan pelukannya. Tangisnya mulai reda.
“Saya punya sahabat, punya orang-orang terdekat, tapi semuanya jauh bagi saya meski mereka ada di sekitar saya. Keluargaku keluarga berantakan, semua berjalan masing-masing. Hanya satu orang yang baik kepada saya, Mar ….”
“Siapa?” tanya Marli memotong.
“Bibi saya. Bibi begitu baik kepada saya. Dari kecil sampai sekarang dia membiayai sekolah saya. Ia begitu memerhatikan saya. Kebanyakan saya tumbuh besar bersama Bibi. Tapi, kalau saya terus hidup, saya sama saja akan melempar wajah bibi saya dengan kotoran hewan. Saya hanya parasit busuk, Mar!”
“Kamu terlalu berpikiran negatif. Saya rasa tidak seburuk itu,” hibur Marli.
“Enggak, saya terlalu buruk, Mar. sampai-sampai malaikat maut tidak mau menerima kematian saya.”
“Itu pasti cuma perasaan kamu yang berlebihan. Saya yakin, bibi kamu tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan dari kamu. Jika yang lainnya kamu anggap telah tidak berarti dalam hidup kamu, setidaknya ada sesuatu yang harus kamu pertahankan untuk tidak kamu sia-siakan, yaitu perasaan bibi kamu. Mengetahui kondisi kamu yang sudah tercebur, jelas satu pukulan telak bagi bibi kamu. Tapi itu akan menjadi tikaman yang lebih menyakitkan bila bibi kamu mengetahui hal yang lebih buruk lagi. Orang yang salah jalan, masih memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan yang lurus selagi raganya masih bernapas. Bagimu bunuh diri adalah akhir dari penderitaanmu. Dan itulah egoisnya kamu. Bunuh dirimu akan jadi beban besar bagi banyak orang. Kita ini terlalu lemah, tidak mampu menalar hal-hal yang tersembunyi dari kehidupan kita….”
“Air dataaang!” teriak Arya yang muncul dari tangga dengan senyum jenakanya. Ia membawa segelas besar air putih, lengkap dengan penutup gelasnya.
“Namanya Arya Kalanbi. Dia mengaku pernah mimpi jadi pacarmu,” kata Marli.
“Wuahahaha!” teriak Arya lalu tertawa malu. “Itukan hanya mimpi. Hahaha! Jadi malu pakai dikenalkan, seperti bintang jatuh saja. Hahaha!”
Namun, Lidya tidak tertawa ataupun tersenyum dengan sikap salah tingkah Arya. Justru Marli yang tertawa melihat sikap dingin yang diberikan Lidya.
Habis. Air putih segelas besar itu habis seketika diminum oleh Lidya.
“Alhamdulillah. Tidak sia-sia saya lari-lari naik turun tangga ambil air,” ucap Arya mencoba menghibur. Lalu katanya serius, “Aduh, Eneng! Jangan bunuh diri, jangaaan. Kalau karena cinta yang bocor, Abang siap jadi penambal lubang. Kalau karena cinta diambil orang, Abang siap jadi serepnya. Kalau karena banyak utang, Abang jelas tidak bisa bayarkan.”
Tersedak napas Lidya hendak tertawa oleh ulah Arya. Arya dan Marli jadi tertawa.
“Sehubung karena kamu masih labil, jadi untuk hari ini dan beberapa hari ke depan, kamu jadi urusan saya. Ikuti instruktur dan arahan saya. Oke?” kata Marli serius kepada Lidya.
Lidya mengangguk.
“Bersihkan wajahmu. Saya antar ke wali kelas untuk izin pulang. Setelah itu, ikuti saja saya. Oke?” kata Marli lagi.
“Oke,” Lidya setuju.
“Mbi, ini adalah aib, jadi jangan sampai bocor dan luber ke mana-mana,” kata Marli kepada sahabatnya. “Yaaa, berharaplah, semoga Lidya mau memilihmu jadi pengganti Alvin-nya yang mati.”
“Hah?!” pekik Arya terkejut, mendelik serius memandang kedua siswi itu. “Alvin anak pengusaha furnitur itu sudah mati? Yang katanya pengedar itu?”
“Kamu tahu dari mana kalau Alvin mengedar?” tanya Marli.
“Ujang saja beli ganja ke Alvin. Sudah rahasia umum bagi pelajar di sini,” kata Arya.
“Alvin memang pengedar,” kata Lidya membenarkan. “Kalian berdua sedang apa di atas sini?”
“Ini adalah markas Hunter Z. Hunter Z ada tiga personel, yaitu saya, Arya dan Udin Goplax. Udin sedang sakit meriang. Setiap pagi, istirahat, jam kosong, bahkan terkadang jam pulang, kami bersantai dan bermusyawarah di sini,” jelas Marli. “Ayo kita izin pulang!”
Marli menarik pergi tangan Lidya yang hanya menurut, meninggalkan Arya yang duduk mengunyah gorengan. (RH)
Bersambung ke: Sosok Asing, Bab5 Harzai karya Rudi Hendrik





