Manggarai Timur, NEROPONG.COM – Senyum dan keceriaan menghiasi wajah puluhan anak penyintas gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), di pengungsian Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Di bawah tenda Masjid Darurat Dusun Waso, Jumat 18 September 2026, suasana pengungsian seketika terasa lebih hangat. Anak-anak laki-laki dan perempuan menerima perlengkapan ibadah berupa mukena dan kopiah yang disalurkan melalui relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) NTT.
“Bantuan dari para donatur kita belikan mukena dan kopiah untuk anak-anak TPQ di lokasi bencana Dusun Waso, Manggarai Timur,” kata relawan UAR NTT, Abdurrahman Langoday, Sabtu 19 September 2026.
Begitu mukena dan kopiah dibagikan, anak-anak tampak antusias menerimanya. Sebagian mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada para donatur serta relawan UAR.
“Terima kasih kakak-kakak relawan UAR yang baik hati. Alhamdulillah, kami sangat senang mendapatkan mukena,” ujar sejumlah anak perempuan.
Menurut Abdurrahman, selama berada di pengungsian, sejumlah anak tetap datang ke masjid untuk melaksanakan ibadah meski tidak lagi memiliki perlengkapan salat.
“Kadang anak-anak datang ke masjid tidak membawa mukena untuk salat. Ketika ditanya, mereka mengatakan alat-alat salat tertimbun reruntuhan bangunan rumah saat terjadi gempa,” tuturnya.
Karena itu, bantuan tersebut menjadi perhatian yang berarti bagi anak-anak di pengungsian. Selain membantu memenuhi kebutuhan ibadah, pemberian mukena dan kopiah menjadi bentuk kepedulian yang membuat mereka merasa diperhatikan di tengah kehidupan pascabencana.
“Malam hari ini di Masjid Darurat Dusun Waso, anak-anak sangat bahagia menerima kerudung, mukena untuk salat, dan kopiah. Mereka sangat ceria dan merasa terhibur setelah dilanda bencana,” kata Abdurrahman.
Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan perhatian kepada anak-anak penyintas gempa di Dusun Waso.
“Terima kasih kepada bapak dan ibu donatur yang telah mendonasikan mukena dan kopiah untuk anak-anak di pengungsian Dusun Waso, Desa Satar Kampas,” ujarnya.
Kepedulian terhadap anak-anak penyintas di Dusun Waso juga tidak berhenti pada pemberian bantuan. Selama sekitar satu bulan terakhir, puluhan anak di pengungsian mengikuti bimbingan membaca Al-Qur’an setiap hari pukul 16.00 hingga 17.30 WITA, mulai dari Iqra.
Sementara anak-anak yang lebih dewasa mengikuti bimbingan membaca Al-Qur’an pada malam hari, mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WITA.
Selain kegiatan keagamaan, anak-anak juga mendapatkan pendampingan psikososial, pembiasaan mengucapkan salam, pembinaan sikap baik kepada orang tua, serta bimbingan salat berjamaah.
Pendampingan tersebut dilakukan oleh relawan UAR, di antaranya Bunda Heni, Novie Avianti, dan Ihsan Annuha, bersama seorang relawan dari Al Khanza Foundation.
Di tengah kehidupan yang masih berlangsung di pengungsian, perhatian sederhana berupa mukena dan kopiah menjadi lebih dari sekadar bantuan barang. Senyum anak-anak yang menerimanya menunjukkan bahwa kepedulian dapat menjadi bagian dari proses mereka untuk kembali menjalani hari-hari dengan semangat.
Bagi relawan UAR, mendampingi penyintas bukan hanya tentang hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga menemani mereka melewati hari-hari setelahnya, termasuk memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar, beribadah, bermain, dan tersenyum kembali. [AM]





