Di sisi lain, para ustaz pengajar dan staf ponpes yang berada di dalam kantor, dibuat terkejut oleh dua orang santri yang masuk dengan cara berlari hingga menabrak meja dekat pintu masuk.
“Pak Ustaz!” sebut kedua santri itu bersamaan dengan napas tersengal-sengal, keringat bercucuran dan wajah panik seperti usai melihat setan.
“Ada apa kalian ini?! Masuk tidak pakai salam!” kata Ustaz Gani agak keras dengan sepasang mata mendelik marah.
Santri yang hendak menjawab menelan ludah kering terlebih dulu. Lalu lapornya dengan tergagap, “Pak Ustaz! Anu … itu… Ustaz…!”
“Anu-anu itu apa?!” bentak Ustaz Rusdi pula yang usianya masih muda, 28 tahun.
“Afrizal, Pak Ustaz! Jadi siluman!” jawab santri yang bertubuh agak jangkung.
“Jadi siluman?” Para ustaz malah bertanya heran.
“Iya, Pak Ustaz. Afrizal berubah jadi prajurit China,” santri yang satunya menguatkan.
“Kesurupan?” tanya Ustaz Rusdi dengan nada suara merendah.
“Bu … bukan, Ustaz. Berubah se … seperti Power Rangers, Ustaz!” kata santri yang jangkung dengan mimik yang begitu serius.
“Afrizal yang mana?” tanya Ustaz Rusdi kepada Ustaz Kholil yang jenggotnya berwarna putih.
“Santri kelas alif tingkat tiga, yang Ahad lalu menjuarai kompetisi Al-Baqarah,” jawab Ustaz Kholil.
“Tidak ada siluman-silmuman di area ini. Kalau ada, dibunuh saja pemuda setan itu!” kata Ustaz Gani dengan wajah serius.
Ustaz Kholil yang memandang keluar, berubah terkejut mendapati sejumlah santri menggotong tubuh seseorang agak jauh di luar sana.
“Siapa yang digotong itu?” tanya Ustaz Kholil sambil bergerak keluar melewati kedua santri.
Ustaz Rusdi, Ustaz Gani dan Ustaz Suparno yang sejak tadi diam menyimak, segera turut keluar. Mereka melihat sekelompok santri kelas alif tingkat tiga menggotong sesosok tubuh.
Suasana berubah ramai dan riuh, sebab warga ponpes yang sedang berada di kelas-kelas mulai memperhatikan situasi itu.
“Innalillahi! Masya Allah, Ustaz Firman! Anda kenapa?” tanya Ustaz Kholil yang sudah menghadang penggotongan.
Ustaz-ustaz yang sedang mengajar pun berkeluaran dan mendekat ingin tahu apa yang terjadi. Para ustazah yang mengajar di kelas santri muslimah, hanya berkumpul di teras gedung. Keriuhan semakin ramai di kelas-kelas santri. Bahkan sebagian santri keluar berkerumun di pintu dan depan kelas.
“Ustaz …!” teriak seseorang sangat keras dari luar kompleks.
Teriakan itu mengejutkan sekaligus membuat orang yang mendengarnya jadi merinding takut. Baru kali ini mereka mendengar teriakan keras seperti itu, seolah-olah sedang bermain di film horor.
Semuanya langsung melihat ke arah gerbang utara. Tampak sosok Dho Gho datang mendekat dan berteriak-teriak.
“Ustaz! Kenapa saya? Kenapa saya berubah, Ustaz?!” teriak Dho Gho.
“Cepat beri tahu Pak Kiai! Orang itu berbahaya!” teriak Ustaz Firman.
Kemunculan sosok Dho Gho membuat sausana kian riuh dan bising oleh nada-nada bertanya, tapi tidak ada yang bisa menjawab.
Ustaz Firman segera dibawa ke ruang klinik. Ustaz Rusdi segera pergi ke ruang kantor Pimpinan Ponpes Ash-Shiroth.
Para santri yang ada di lapangan segera dihalau oleh guru-guru mereka. Kini para santri sudah tidak di dalam kelas lagi, mereka sudah luber di teras-teras. Suasana bising kini berubah hening, ketika tiga ustaz terkemuka maju menghadang langkah Dho Gho.
Ustaz di tengah adalah Ustaz Kholil yang sepuh. Ustaz di sebelah kanan adalah Ustaz Nurjaya yang berusia 50 tahun. Perawakannya tinggi agak gemuk dan berjenggot putih pula. Ia bersorban putih. Ia menjabat Kepala Keamanan Ponpes.
Ustaz yang di sebelah kiri adalah Ustaz Ridho Abdallah. Usianya 36 tahun. Jenggotnya masih hitam. Tidak seperti ustaz-ustaz lain, ia tidak biasa memakai peci atau sorban. Ia membidangi pelajaran olah fisik, olahraga umum dan beladiri.
“Ustaz, tolong saya, Ustaz!” seru Dho Gho memohon.
“Siapa kamu?” tanya Ustaz Kholil sebagai juru bicara.
“Saya Afrizal, Ustaz. Saya tidak tahu kenapa ana berubah seperti ini,” kata Dho Gho.
“Suaranya memang suara Afrizal,” bisik Ustaz Ridho kepada Ustaz Kholil.
“Bagaimana bisa kamu mengaku sebagai santri kami, sedangkan wajah dan tubuh sangat kontras?” tanya Ustaz Kholil.
“Demi Allah! Saya Afrizal, Ustaz! Tiba-tiba saja saya telah berubah wujud menjadi tubuh ini!” Dho Gho bersumpah.
“Kamu bukan santri kami. Jika kamu santri kami yang berubah wujud, kamu pasti telah mempelajari ilmu setan!” tuding Ustaz Kholil dengan mata mendelik.
“Demi Allah! Demi Allah! Saya tidak belajar ilmu hitam!” teriak Dho Gho membela diri.
“Hentikan sumpahmu itu, Pemuja Iblis!” bentak Ustaz Kholil menjadi semakin marah. “Tidak ada di dunia ini, manusia biasa bisa berubah wujud ke bentuk lain, kecuali dia menguasai ilmu setan!”
Di saat perdebatan sedang berlangsung, dari arah kantor pimpinan ponpes berjalan cepat seorang lelaki tua yang masih sehat dan gagah. Ia dikawal oleh Ustaz Rusdi. Lelaki tua berpakaian putih-putih itu bersorban putih. Sebuah kacamata melekat di wajahnya yang putih bersih dan kianberwibawa dengan adanya jenggot putih berkharisma. Ia adalah Kiai Haji Jufri Siraji, Wakil Pimpinan Ponpes Ash-Shiroth. Ia adalah orang yang menggantikan tugas-tugas K.H. Abdul Waro saat tidak ada di ponpes, seperti saat ini.
Namun, sebelum K.H. Jufri Siraji dan UstazRusdi bergabung dengan Ustaz Kholil, seorang santri dari ruang klinik berlari menghentikan keduanya.
“Pak Kiai, kata Ustaz Firman, Afrizal yang berubah bentuk sangat berbahaya. Lebih baik ditangkap saja!” kata santri tersebut dengan kalimat terburu-buru.
K.H. Jufri hanya mengangguk lalu berlalu bersama Ustaz Rusdi. (RH)
Bersambung ke: Kekuatan Dho Gho, Bab7 Harzai oleh Rudi Hendrik





