Masjid Al Aqsa memiliki sejarah yang sangat mulia sejak awal pembangunanya. Menurut berbagai riwayat, Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang membangun tempat suci ini sebagai pusat ibadah kepada Allah SWT. Sejak saat itu, Baitul Maqdis menjadi lokasi yang dimuliakan dan diwariskan secara spiritual dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Para nabi yang datang setelah Nabi Adam AS menjadikan Masjid Al-Aqsa sebagai tempat ibadah, doa, dan bahkan tempat menetap. Mereka melaksanakan shalat di sana sebagai bentuk kesinambungan sunnah dan tauhid yang telah diletakkan sejak awal. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Aqsa bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat spiritual yang menyatukan risalah para nabi.
Dengan demikian, Masjid Al-Aqsa berperan sebagai simbol keberlanjutan iman dan ibadah dalam sejarah kenabian. Kesuciannya tidak terikat oleh satu zaman atau satu umat saja, tetapi menjadi warisan ruhani universal yang menghubungkan para nabi dan umat manusia dalam satu tujuan: meng Esakan Allah SWT.
Zaman Nabi Adam AS
Nabi Adam ‘Alaihis Salam, yang menurut sebagian riwayat hidup sekitar 930 tahun (sekitar 5872–4942 SM), diyakini sebagai manusia pertama yang membangun Masjid Al-Aqsa Mosque di kawasan Baitul Maqdis, Palestina. Namun sebelum itu, atas perintah Allah, beliau terlebih dahulu membangun Ka’bah di kompleks Masjid al-Haram sebagai rumah ibadah pertama bagi umat manusia dan kiblat awal dalam beribadah.
Pada masa Nabi Adam AS, Masjidil Haram belum berbentuk megah seperti sekarang. Tempat tersebut hanyalah area lapang dengan batas-batas tertentu yang ditetapkan langsung oleh beliau sebagai tempat bermunajat kepada Allah. Menariknya, pondasi dan batas Masjidil Haram serta Masjidil Aqsa dibangun berdasarkan petunjuk Allah, sehingga memiliki kesamaan dalam penetapan dasarnya.
Empat puluh tahun setelah membangun Masjidil Haram, Nabi Adam AS membangun Masjidil Aqsa sebagai rumah ibadah kedua. Dalam buku Baitul Maqdis for Dummies karya Felix Siauw disebutkan bahwa Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa adalah dua masjid suci yang sejak dahulu menjadi kiblat kaum Muslimin pada masa yang berbeda.
Dalam sejarahnya, perpindahan kiblat terjadi beberapa kali. Sejak zaman Nabi Adam AS hingga masa Nabi Musa AS, ibadah menghadap Ka’bah. Pada masa Nabi Musa AS, kiblat berpindah ke Masjidil Aqsa. Kemudian pada masa Nabi Muhammad SAW, kiblat kembali diarahkan ke Ka’bah di Makkah.
Batas wilayah Masjidil Aqsa yang terlihat dari tembok yang mengelilinginya sebagian besar tetap terjaga sejak awal berdirinya. Meskipun bangunannya beberapa kali mengalami kerusakan dalam sejarah, pondasi dasarnya tetap ada dan terus diperbarui oleh para nabi serta para pemimpin Islam setelahnya.
Zaman Nabi Nuh AS
Sepeninggal Nabi Adam ‘Alaihis Salam, pembangunan dan pemakmuran Masjid Al-Aqsa dilanjutkan oleh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam sekitar tahun 2000 SM. Namun ketika terjadi banjir besar pada masa beliau, yang dikenal sebagai peristiwa banjir Nabi Nuh, bangunan Ka’bah dan masjid Al Aqso diyakini tertimbun dan jejaknya sempat hilang dari permukaan bumi.
Meski demikian, sebagian riwayat menyebutkan bahwa pondasi dasarnya tetap terjaga atas kehendak Allah. Kelak, pada masa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, pondasi tersebut kembali ditemukan dan dibangun ulang sebagai rumah ibadah yang dimuliakan hingga hari ini.
Nabi Nuh AS disebut turut memperbarui serta menjaga kesucian kawasan Baitul Maqdis setelah masa banjir besar.
Hal ini menunjukkan bahwa Masjid al-Aqsa tetap menjadi pusat ibadah dan tauhid dari generasi ke generasi para nabi. Meski zaman silih berganti dan berbagai peristiwa besar terjadi, kesinambungan pemeliharaan tempat suci ini terus dijaga oleh para utusan Allah sebagai bagian dari warisan spiritual umat manusia.
Nabi Ibrahim AS dan Anak Keturunannya
Allah SWT memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggal baru bagi Nabi Ibrahim AS dan sebagai tempat hijrahnya setelah beliau mengalami kezaliman serta penderitaan yang disebabkan oleh kaumnya di Iraq. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 71:
“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.”
Ketika Nabi Ibrahim as hijrah dan menetap di Baitul Maqdis, beliau ditemani oleh Nabi Luth as. Di tanah yang diberkahi itu, Nabi Ibrahim AS dikaruniai dua putra, yaitu Ismail AS dan Ishaq AS. Nabi Ishaq AS kemudian dikaruniai seorang putra bernama Ya’qub AS saat berada di wilayah tersebut. Nabi Ya’qub AS pun menetap di Baitul Maqdis dan dikaruniai Yusuf AS serta anak-anak lainnya. Dari keturunan Ya’qub AS inilah lahir generasi yang kemudian dikenal sebagai Bani Israil.
Nabi Yusuf AS
Setelah kisah masyhur Yusuf as dan saudara-saudaranya di Mesir, Nabi Ya’qub as pada akhir hayatnya pindah ke Mesir hingga wafat disana. Namun jasadnya kemudian dipindahkan ke daerah Baitul Maqdis dan dimakamkan di samping ayahnya Ishaq as dan Kakeknya Ibrahim as sesuai dengan wasiatnya.
Dari keturunan Ya’qub as (Bani Israil), Allah swt mengutus Musa as sebagai Nabi di Mesir. Lalu kisah yang terkenal antara Musa as dan Firaun, hingga Allah swt perintahkan Musa as dan kaumnya untuk keluar dari Mesir dan hijrah menuju Baitul Maqdis untuk membebaskan nya, firman Allah swt dalam Surah Al Maidah ayat 21:
“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah diteuntukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”
Namun kemudian mereka takut dan merasa lemah, maka Allah swt menghukum mereka. Maka tersesatlah mereka dalam labirin di gurun Sina’ selama 40 tahun. Nabi Harun as dan Nabi Musa as juga bermaksud untuk hijrah ke tanah suci (Palestina), tapi Nabi Harun as meninggal dalam labirin tersebut.
Adapun Nabi Musa as, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah saw, ketika telah dekat waktu kematiannya dia berdoa dan memohon kepada Allah swt agar mendekatkan nya ke Baitul Maqdis dengan jarak sepelemparan batu.
Abu Hurairah ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabada,: “seandainya aku berada di sana, niscaya aku akan menunjukkan kepada kalian kuburnya (Nabi Musa) yang berada di sisi jalan di bawah bukit pasir yang berwarna merah.” (HR Bukhari, Muslim).
Hadits ini menunjukkan kepada kita akan usaha Nabi Musa as untuk mendekat ke masjid Al Aqsa, karena ia adalah sumber keberkahan. Setelah wafatnya Musa as dan berakhirnya masa tersesat 40 tahun di gurun Sina’, sebagian besar atau bahkan seluruh orang-orang yang menolak untuk masuk ke tanah suci (Baitul Maqdis) sudah meninggal.
Maka kemudian Yusya’ bin Nun memimpin generasi baru dan membawa mereka masuk ke tanah suci. Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya matahari tidak ditahan (cahayanya), kecuali kepada Yusya’ ketika ia dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad).
Yusya’ as adalah salah satu nabi yang tidak disebutkan dalam Al Quran, akan tetapi Rasulullah saw telah mengabarkan tentang kenabiannya. Abu Hurairah telah meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “salah satu Nabi pernah berperang, lalu ia berkata kepada matahari,”engkau diperintah (oleh Allah swt) dan aku pun demikian. Ya Allah, tahanlah (cahayanya) atas kami.” (HR Ahmad)
Era Nabi Daud AS dan Sulaiman AS
Setelah Yusya’ bin Nun, Al Quran berbicara tentang nabi-nabi yang berasal dari Bani Israil yang memerintah Baitul Maqdis: mereka adalah Nabi Daud as dan anaknya Nabi Sualiman as. Nabi Daud AS merenovasi dan memperluas struktur Masjid Al-Aqsa dan Nabi Sulaiman as pun meneruskan pembangunannya.
Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr ra, dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Ketika Sulaiman as telah selesai membangun Baitul Maqdis, beliau memohon kepada Allah tiga hal: agar Allah swt memberi nya hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, agar Allah swt memberi nya kekuasaan yang tidak akan dimiliki oleh seorang pun setelah nya, dan agar siapa saja yang datang ke Baitul Maqdis semata-mata hanya ingin shalat di dalamnya, keluar dari dosa-dosanya seperti baru dilahirkan dari rahim ibunya.” Lalu Rasulullah saw melanjutka: “adapun permintaan dua yang pertama dikabulkan oleh Allah swt. Dan aku berharap agar permintaan yang ketiga pun dikabulkan.” (HR Ahmad, Nasa’i, dan selain mereka)
Tentu saja pembangunan ini hanyalah pembaharuan bukan pembangunan dari awal, persis seperti pemabaharuan bangunan masjid Haram (Ka’bah) oleh Nabi Ibrahim as. Imam Al Qurthubi menjelaskan hal itu dalam syarah hadits Abu Dzar ra ketika ia bertanya kepada Nabi saw: “Masjid apa yang pertama kali di bangun di muka bumi?” Nabi saw menjawab: “Masjid Haram.” Kemudian ia bertanya lagi: “kemudian apa?” Nabi saw menjawab: “Masjid Al Aqsa.” Ia bertanya lagi: “berapa lama jarak anatara kedua nya?” Nabi saw menjawab: “Empat puluh tahun.” (HR Bukhori dan Muslim)
Ayat dan Hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa masing-masing Nabi Ibrahim as dan Nabi Sulaiman membangun dari awal, tetapi mereka hanya memperbaharui dan melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orang lain.
Pembangunan masjid Al Aqso oleh Nabi Sulaiman AS tersebut adalah sangat cocok dengan kemampuan dan kapasitas yang Allah swt berikan kepada Nabi Sulaiman as. Allah swt berfirman dalam surah Saba’ ayat 12-13:
“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaanya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”
Era Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS
Jelas bahwa banyak dari para Nabi mengikuti jejak Nabi Sulaiman as di Baitul Maqdis, akan tetapi Al Quran hanya berbicara tentang tiga saja dari mereka dalam satu periode. Mereka yang tiga ini sangat terikat dengan Baitul Maqdis dan masjid Al Aqsa, mereka adalah: Nabi Zakaria as beserta anaknya Nabi Yahya as, dan Nabi Isa as.
Masjid Al Aqsa sangat penting dalam kehidupan, da’wah dan usaha mereka yang terus menerus untuk memberikan petunjuk dan memperbaiki Bani Israil. Masjid Al Aqsa juga merupakan tempat kumpul dan mimbar da’wah mereka.
Setelah istri Imron (ibunda dari Maryam) bernadzar bahwa anaknya yang akan lahir kelak akan berkhidmat di masjid Al Aqsa, sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang soleh dari Bani Israil kala itu. Kemudian ia melahirkan anaknya yaitu Maryam binti Imron.
Lalu Zakaria as menempatkan Maryam disuatu tempat mulia di masjid Al Aqsa agar ia bisa beribadah dan berkhidmat di situ. Setelah itu, terjadilah peristiwa yang terkenal yaitu dia mengandung Isa as. Maka Isa as adalah Nabi terakhir yang dilahirkan dan diutus menjadi nabi di Baitul Maqdis dan nabi terakhir sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw.
Nabi Zakaria as dikaruniai seorang anak bernama Nabi Yahya as, dimana Nabi Isa as hidup sejaman dengan nya. Mereka benar-benar berusaha dalam mendakwahi Bani Israil dan menjalankan tugas-tugas kenabian. Hal itu ditujukkan dalam sebuah hadits shahih, dari Al Harits bin Al ‘Asy’ari ra bahwa Nabi saw telah bersabda: “sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima perkara, dia mengamalkan nya dan memerinthahkan Bani Israil untuk mengamalkan nya pula,” Nabi saw melanjutkan: “tapi dia lamban dalam menjalankan lima perkara tersebut,” lalu Isa berkata kepada nya: “sesungguhnya engkau telah diperintahkan dengan lima perkara dimana engkau mengamalkan nya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkan nya juga, maka pilihlah apakah engkau yang akan memerintahkan Bani Israil mengamalkan nya atau aku yang akan memerintahkan mereka untuk mengamalkan nya?” Maka Yahya menjawab: “Jika engkau mendahului ku menyeru mereka untuk mengamalkan lima perkara tersebut, maka aku takut akan disiksa,” kemudian dia mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis hingga masjid menjadi penuh dan orang-orang duduk di atas balkon-balkon, lalu ia mengingatkan mereka …….” (HR Ahmad).
Hadits ini menujukkan bahwa dulu masjid Al Aqsa cukup besar dan luas, dan juga memiliki balkon-balkon yang tinggi pada era Nabi Isa as. Setelah Nabi Isa as, maka terhentilah pengutusan para nabi.
Penutup
Hingga Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw untuk menyempurnakan jalan yang telah dilalui oleh para Nabi sebelum nya bersama Al Aqsa. Maka Nabi saw melakukan isro’ ke masjid Al Aqsa dan mi’roj ke langit dari masjid Al Aqsa, dan di dalamnya pula Nabi saw bertindak sebagai imam shalat bagi para nabi.
wallahu a’lam bishawab






