Jakarta, Neropong.com – MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan mengirim surat terbuka kepada pemerintah Indonesia untuk protes atas Invasi militer Israel terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara.
“MER-C kirim surat terbuka kepada pemerintah Indonesia untuk keluarkan aksi protes atas invasi militer Israel terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara,” kata Presidium MER-C Indonesia DR dr. Hadiki Habib dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad 29 Desember 2024.
Menurutnya, hampir 90 hari sistem layanan kesehatan di Gaza Utara mengalami tekanan, mulai dari pembatasan tim medis internasional, pengurangan suplai logistik medis dan bahan bakar.
Hingga yang terakhir masif terjadi dalam sepekan terakhir adalah pemaksaan pemindahan pasien dan staff medis yang dibarengi penyerangan langsung terhadap RS Kamal Udwan dan RS Al Awda.
“Dalam kurun waktu tersebut, tidak terdengar nada protes dari para pemimpin internasional, apalagi pemimpin negara-negara Muslim,” imbuhnya.
Ia mengungkapkan, berkali-kali teriakan memohon intervensi internasional disampaikan oleh Kementerian Kesehatan di Gaza dan oleh direktur RS Kamal Udwan sendiri, dr. Husam Abu Safiya, namun hanya seperti bisikan angin malam di musim dingin semata.
“Bagi Indonesia, tekanan militer terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara juga berarti ancaman terhadap RS Indonesia. Dalam sejarahnya, RS Indonesia adalah sumbangsih terbesar masyarakat Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, pada akhirnya menjelma menjadi tulang punggung sistem kesehatan di Gaza Utara,” kata dr Hadiki.
MER-C konsisten mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza, dan menyaksikan bagaimana pasien dan staff medis harus bertahan di bawah ancaman perang dan di saat yang sama melawan penyakit yang diderita.
Dalam 3 bulan terakhir kondisi semakin sulit, tidak hanya berdampak terhadap pelayanan namun juga kesehatan mental seluruh pekerja kesehatan yang berada di RS.
Karena itu kami berharap posisi dan wewenang yang dimiliki Indonesia saat ini, untuk memprotes keras invasi militer Israel terhadap sistem kesehatan di Gaza Utara yang merusak infrastruktur RS dan membunuh para pekerja kesehatan didalamnya saat bertugas.
Dia berharap, suara Bapak-bapak yang mewakili 200-an juta masyarakat di Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina, akan memberikan dorongan dan inspirasi bagi pemimpin dunia lainnya agar mau bersuara dan memberikan tekanan kepada pemerintah Israel agar menghentikan penyerangan terhadap fasilitas kesehatan yang merupakan pelanggaran terhadap International Humanitarian Law.
Keterlambatan dalam menyuarakan masalah ini, tidak hanya berpotensi pada penghancuran sistem kesehatan, namun skala lebih besar merupakan bagian dari genosida terencana dan sistematis. Mari selamatkan saudara kita di Gaza, Palestina dari upaya penghilangangan paksa eksistensi mereka dari muka bumi. {}






