Tim Kesehatan UAR Gelar Pelatihan Bekam di Pengungsian Penyintas Gempa Flores

Suasana Pelatihan Bekam Basic Tim Kesehatan UAR di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Lamba Leda Utara, Kamis (1/10/2026)

Manggarai Timur, NTT NEROPONG.COM – Tim Kesehatan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) menggelar pelatihan bekam atau hijamah bagi warga terdampak gempa bumi di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis 1 Oktober 2026.

Pelatihan langsung diampu oleh Ketua Tim Kesehatan (Terapis) UAR sekaligus Ketua Komunitas Terapis Al-Fatah (KTA) Tabib Rojiun C.Ht. Ia merupakan pelatih tersertifikasi BNSP dan Founder Griya Sehat Asy Syifa Bogor.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang berlangsung di Balai Warga Waso tersebut diikuti 24 peserta muslimin dan muslimat dari Dusun Waso, Ronting dan Binaan, Desa Satar Kampas. Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias sejak pelatihan dimulai pukul 08.00 hingga 16.00 WITA.

“Alhamdulillah, Pelatihan Bekam Basic di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kec. Lamba Leda telah terlaksana dengan baik. Sebanyak 24 peserta mengikuti pelatihan dengan antusias sejak awal hingga akhir pelatihan,” ujar Rojiun melalui pesan singkat, Jum’at (2/10/2026).

Mengusung tema “Belajar Bekam dari Nol, Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP)”, pelatihan dirancang untuk memberikan pengetahuan dasar hingga praktik bekam kepada masyarakat, pemula maupun tenaga kesehatan.

Materi diawali dengan pembahasan sejarah bekam, termasuk praktik hijamah yang dikenal dalam sejarah pengobatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat. Peserta kemudian mendapatkan materi mengenai pengertian bekam serta anatomi tubuh.

Rojiun juga menjelaskan sejumlah aspek penting dalam pelaksanaan bekam, mulai dari kontraindikasi dan kegawatdaruratan hingga sterilisasi.

“Materi tersebut diberikan agar peserta memahami bahwa praktik bekam tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga memperhatikan keamanan dan prosedur yang tepat,” ujarnya.

Dalam penyampaian materinya, Rojiun juga mengutip hadis riwayat Bukhari tentang pengobatan, “Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu sayatan alat bekam, minum madu, atau sundutan dengan api (kay), dan aku melarang umatku berobat dengan kay.”

Menurutnya, pembelajaran bekam juga perlu mengenalkan metode sayatan, di samping penggunaan alat atau metode lain yang banyak digunakan dalam praktik bekam saat ini. “Jadi intinya, kita juga harus mempelajari bekam dengan sayatan sebagaimana dianjurkan Nabi,” tegasnya.

Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti sesi simulasi dan praktik langsung bersama tim terapis. Peserta kemudian diberikan kesempatan bertanya untuk memperdalam pemahaman mengenai teknik, titik pembekaman, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan selama proses pembekaman.

Mendapat Pemahaman Baru

Salah seorang peserta, Muhidin Akbar, mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, khususnya mengenai titik-titik pembekaman dan penanganan apabila muncul kondisi yang tidak diinginkan saat praktik.

“Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan, saya lebih paham mengenai titik-titik pembekaman dan bagaimana menangani hal-hal apabila dalam proses pembekaman mengalami sesuatu yang tidak diinginkan,” kata Muhidin.

Ia menambahkan, “Singkatnya, banyak hal yang kami pahami setelah mengikuti semua proses pelatihan dan praktik langsung. Terima kasih banyak kepada Tim UAR yang sudah menyediakan pelatihan buat kami.”

Menurut Muhidin, sebelumnya ia sudah pernah mendapatkan layanan bekam dari tim kesehatan UAR. Ia juga mengaku telah memiliki pengalaman belajar bekam sebelumnya sehingga pelatihan kali ini semakin menambah pemahamannya.

“Alhamdulillah saya sudah pernah dibekam oleh tim UAR di Posko Waso. Sebelumnya, saya juga sudah pernah belajar bekam, jadi sekarang semakin paham setelah mengikuti pelatihan hari ini,” tuturnya.

Pelatihan yang berlangsung hingga sore tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan akhir UAR dalam misi kemanusiaan di Dusun Waso, sebelum keseluruhan program ditutup dengan “Doa Bersama” yang dijadwalkan pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026.

Panitia berharap, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pelatihan sehari, tetapi menjadi bekal ilmu yang dapat terus dikembangkan masyarakat Dusun Waso dan sekitarnya setelah Tim UAR NTT, Jawa Timur dan Markas Pusat menyelesaikan misi kemanusiaan di lokasi terdampak gempa. [AM]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *