NEROPONG.COM – MUNCUL sebuah artikel di NU Online yang berjudul “Jalan Dakwah Badut Syariah”. Yang menarik dan menggelitik perhatian adalah sebutan “Badut Syariah” yang terbaca asing. Baru kali ini menemukan istilah Badut Syariah.
NU Online mengangkat sebuah kisah seorang pendakwah yang memilih cara atau jalan berbeda dari para dai pada umumnya.
Berikuti ini kisahnya:
Yahya Edward Hendrawan (44), warga Sudimara, Pinang, Kota Tangerang, memilih berdakwah dengan cara yang tidak biasa. Sejak 2010, ia menggunakan kostum badut untuk mengajar mengaji dan menyampaikan pesan keagamaan kepada anak-anak usia TK, PAUD, hingga SD.
Ide tersebut berawal dari gurunya, KH Jamhari, yang mendorongnya menjadi peran Abu Nawas milenial dengan berdakwah menggunakan kostum badut. Dari gurunya juga, Yahya kemudian dijuluki Ustaz Badut Syariah.
“Tujuannya untuk daya tarik anak-anak agar mereka senang datang ke pengajian, agar mereka senang datang mengaji,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (1/30/2026).
Dari perjalanan spiritualnya tersebut, ia mendapatkan pesan dari gurunya yang hingga kini terus dipegang dalam menjalankan aktivitas dakwah.
“Teruslah berdakwah melakukan kebaikan. Karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan mengantarkan kita masuk ke surga Allah swt. Sampai sekarang, saya menyebarkan ilmu yang saya bisa. Apa yang saya bisa, saya berbagi ilmu kepada anak-anak,” tuturnya mengingat pesan gurunya.
Kemudian Yahya menyadari bahwa dakwah kepada anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, ia memilih pendekatan yang menyenangkan agar pesan keagamaan dapat diterima tanpa membuat anak merasa digurui. Menurutnya, perkembangan teknologi, khususnya penggunaan telepon seluler, turut membawa perubahan dalam perilaku anak-anak. Untuk itu penjelasan terkait materi-materi tentang adab ia gencarkan.
“Motivasi saya ingin anak-anak Muslim di zaman sekarang ini lebih berakhlak dan beradab. Karena perkembangan zaman saat ini, dengan teknologi HP khususnya, adab dan akhlak mulai terkikis,” jelasnya.
Yahya mengakui, awal perjalanan dakwahnya tidak berjalan dengan mulus dan mendapatkan banyak tantangan. Ketika pertama kali menggunakan kostum badut untuk mengajar mengaji, ia mendapat cibiran dari masyarakat sekitar. Bahkan, penolakan paling berat justru datang dari keluarga sendiri, yaitu orangtua dan istrinya.
“Orang tua saya waktu masih hidup bilang, silakan mengajar ngaji, tapi jangan menggunakan kostum badut. Ngaji seperti biasa saja, muka jangan dicoreng-coreng,” kenangnya.
Namun, Yahya tidak menyerah. Ia perlahan meyakinkan keluarganya bahwa kostum tersebut bukan untuk sekadar mencari perhatian, melainkan menjadi sarana dalam menjalankan dakwah.
Beruntungnya ada dukungan dari salah seorang tetangga yang membantu meyakinkan keluarganya. Pada akhirnya, hati orang tua dan istrinya pun luluh. Yahya diperbolehkan untuk berdakwah menggunakan kostum badut.
“Emang kemauan kamu, jalan kamu kayak gitu, ya sudah kamu jalanin. Semoga kamu berkah dari usaha kamu,” kata Yahya menirukan pesan orangtuanya.
Perjalanan panjang selama 16 tahun menjalani dakwah dengan kostum badut, Yahya tidak hanya mengajar mengaji. Ia juga mulai membangun kegiatan literasi untuk anak-anak melalui taman baca. Yahya menyebut taman baca tersebut menjadi salah satu capaian yang ia capai selama menjalankan aktivitas dakwah.
Ide membangun taman baca juga tidak terlepas dari tantangan yang diberikan gurunya. Ia diminta tidak sekadar mengandalkan proposal untuk mendapatkan bantuan.
“Saya ditantang sama guru saya. Jangan sekali-kali kamu membuat proposal, minta sini, minta sana untuk bangun taman baca,” ungkapnya. (mjd)




