NEROPONG.COM – Awalnya takut membayangkan jarum bekam yang besar dan mengerikan. Namun setelah mendapat penjelasan tim terapis, ibu-ibu penyintas gempa bumi di Dusun Waso, Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, NTT, akhirnya berani mencoba. Bahkan, setelah merasakan pelayanan, mereka antusias mengikuti pelatihan bekam yang digelar Tim Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR).
Pengalaman tersebut diceritakan Novie Avianti, S.Pd., terapis bekam muslimat UAR Bogor yang bersama Sugiarti atau Ibu Hilmi memberikan pelayanan kepada warga perempuan selama misi kemanusiaan pascagempa Flores Utara berkekuatan 7,7 Magnitudo
“Awalnya ibu-ibu masih pada takut, karena hal yang baru didengar dalam kesehatan Thibun Nabawi, khususnya bekam. Yang dibayangkan, jarumnya itu besar dan mengerikan,” tutur Novie kepada media ini, Sabtu (17/10/2026).
Namun, ketakutan itu perlahan berkurang setelah para ibu mendapat penjelas dari tim terapis dan mendengar cerita dari suami serta warga yang lebih dahulu menjalani bekam. Mereka menceritakan perubahan positif kondisi tubuh yang dirasakan setelah mendapat pelayanan dari terapis UAR.
“Setelah kami beri penjelasan, kemudian mendengar cerita dari suami masing-masing dan informasi warga lain, para istri jadi berminat dibekam. Mereka alu menceritakan ke ibu-ibu yang lain bahwa setelah dibekam badan jadi ringan, sakit pinggangnya reda, sakit gigi pun reda, pusing-pusing hilang,” kata Novie.
Cerita dari mulut ke mulut tersebut membuat semakin banyak kaum ibu (muslimat) tertarik mencoba layanan bekam dari Tim Terapis Ukhuwah Al-Fatah Rescue. Menurut Novie, sekitar 75 warga perempuan penyintas bencana yang ia layani bersama ibu Hilmi baru pertama kali menjalani terapi bekam.
Antusiasme warga semakin terlihat ketika Tim Kesehatan UAR mengadakan pelatihan bekam pada Kamis 1 Oktober 2026. Warga muslimat yang sebelumnya datang sebagai penerima pelayanan kesehatan bekam, berkesempatan mempelajari keterampilan tersebut agar dapat mempraktikkannya kepada keluarga dan orang-orang terdekat.
“Ibu-ibu penyintas bencana sangat bersyukur Tim UAR menyelenggarakan pelatihan bekam di Dusun Waso. Alhamdulillah mereka antusias sekali mengikuti pelatihan yang diberikan secara teori dan simulasi oleh Tabib Rojiun beserta tim. Mereka pun sudah mempraktikkan ke kerabat terdekat,” ungkap Novie.
Kesungguhan warga untuk belajar terapi juga mendapat dukungan melalui pemberian alat bekam saat penutupan misi kemanusiaan bertajuk “Doa Bersama Masyarakat Terdampak Bencana” pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026. Dua muslimat dari Dusun Ronting, Putri Nur Qomariah dan Hajra, termasuk penerima alat bekam tersebut. Tiga warga laki-laki, yakni Muhidin Akbar dari Dusun Binaan, Mustajin dari Dusun Waso, dan Syahid dari Dusun Ronting, juga menerima alat serupa.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi kesempatan Tim UAR (Daud Masang dan rekan-rekan) memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana, tetapi juga berbagi pengetahuan dan keterampilan yang bisa dimanfaatkan setelah relawan meninggalkan lokasi.
Pelayanan kesehatan Thibun Nabawi (bekam, fashdu) tersebut merupakan bagian dari kegiatan Tim UAR NTT dan Pusat selama misi kemanusiaan di wilayah terdampak gempa Flores, yang dimulai sejak hari kedua pascagempa 15 Agustus 2026 hingga penutupan misi pada 3 Oktober 2026.
Pengalaman di Waso menunjukkan bagaimana pendekatan langsung dan kesaksian warga dapat membangun kepercayaan terhadap layanan yang sebelumnya terasa asing. Dari yang semula takut mencoba, sebagian warga kini mulai belajar agar dapat mengenal dan mempraktikkan bekam secara lebih mandiri. [AM]





