Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai isu Palestina di Indonesia belakangan cenderung lebih landai dibandingkan sebelumnya. Menurut dia, salah satu faktor yang membuat gaung isu Palestina meredup adalah minimnya aksi kolektif di ruang publik.
Ismail mengatakan, perhatian publik terhadap isu Palestina tidak cukup hanya dibangun melalui aktivitas di media sosial. Menurut dia, diperlukan momentum dan gerakan bersama yang terlihat secara langsung di lapangan untuk menjaga perhatian masyarakat.
“Kalau di Indonesia sendiri, itu kan harus ada event gerakan. Jadi harus ada event mengumpulkan demo atau apa. Kalau sekarang lihat kan lebih sepertinya landai,” ujar Ismail kepada Republika.co.id usai menjadi pembicara dalam public expose hasil penelitian bertajuk “Model Komunikasi Politik Digital Berbasis TREX AI untuk Pengukuran Risiko Ekstremisme Keagamaan di Indonesia” di UIN Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Dia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara lain yang masih menggelar aksi solidaritas Palestina dalam jumlah besar. Ismail mencontohkan aksi demonstrasi yang berlangsung di Amsterdam dan Spanyol dengan puluhan ribu peserta.
“Di luar, demo kan banyak. Kemarin aku retweet yang ada di Amsterdam, yang ada di Spain, puluhan ribu orang, dan lain-lain, kan banyak sekali. Di Indonesia kan enggak ada,” ujarnya.
Menurut Ismail, minimnya aksi di lapangan berpotensi membuat masyarakat merasa persoalan Palestina seolah telah mereda. Padahal, aktivitas dukungan terhadap Palestina masih berlangsung, termasuk melalui media sosial.
“Di Indonesia, aksi-aksi ini akhir-akhir ini kan kita kurang dengar. Jadi membuat masyarakat pun juga merasa seperti baik-baik saja,” kata dia.
Ismail mengakui, dukungan terhadap Palestina kemungkinan tetap berlangsung di ruang digital. Bentuknya antara lain berupa mengunggah ulang informasi, memberikan komentar, maupun membagikan konten terkait Palestina.
Namun, menurut dia, aktivitas tersebut kurang terlihat oleh masyarakat yang tidak aktif mengakses media sosial. Karena itu, gerakan di ruang digital dinilai perlu dilengkapi dengan aksi nyata yang dapat terlihat secara lebih luas.
“Atau mungkin mereka sudah ada aksi sebetulnya di media sosial. Retweet, repost, ngasih komentar-komentar. Tapi kan jadi kurang kelihatan di lapangan,” katanya.
Ismail menilai salah satu bentuk aksi yang dapat kembali meningkatkan perhatian publik terhadap Palestina adalah demonstrasi atau aksi solidaritas secara bersama-sama.
Menurut dia, aksi bersama dapat menjadi momentum yang membuat dukungan terhadap Palestina terlihat secara lebih luas dan mendorong kesadaran publik.
“Saya kira salah satu yang paling masif itu adalah demonstrasi seperti yang dilakukan di luar. Itu menunjukkan dukungan,” jelas Ismail.
Selain demonstrasi, dia menyebut aksi boikot sebagai salah satu bentuk dukungan yang dapat dilakukan masyarakat. Namun, menurut dia, dampak kesadaran publik akan lebih terasa apabila berbagai aksi tersebut dilakukan secara kolektif dan memiliki momentum bersama.
“Kita melakukan aksi misalnya boikot. Tetapi kalau tidak ada momen bersama, kita melakukan aksi bersama, itu kan kesadaran publik secara masif kurang kerasa,” ujarnya.
Ismail menambahkan, kampanye boikot yang berlangsung hanya di ruang digital juga memiliki keterbatasan dalam menjangkau masyarakat yang tidak aktif menggunakan media sosial.
“Oke lah kita bikin boikot di digital. Nggak kelihatan di lapangan. Banyak orang nggak tahu ketika dia nggak akses media sosial,” kata dia.





