Ende, NTT – Usai penutupan misi kemanusiaan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) di pengungsian Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, enam relawan UAR yang menjadi tim terakhir meninggalkan lokasi melanjutkan perjalanan pulang menuju Kupang melalui jalur darat dengan mengendarai sepeda motor, Senin 5 Oktober 2026.
Dalam perjalanan tersebut, keenam relawan menyempatkan diri singgah di Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Mereka adalah Muqarrobin Al Ayubi, Abdul Kadir Munir, Jawir Julfikar, Ahmad Mukhtar, Abdurrahman Langoday, dan Ihsan Annuha.
Kunjungan itu menjadi kesempatan bagi para relawan untuk mengenang perjuangan salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Rumah sederhana tersebut menjadi tempat Soekarno menjalani masa pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda di Ende pada 1934 hingga 1938.
Soekarno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 bersama istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami, serta mertuanya, Ibu Amsi. Selama berada di Ende, ia dijauhkan dari pusat pergerakan politik dan para sahabat seperjuangannya.
Namun, masa pengasingan itu tidak menghentikan aktivitas intelektual Soekarno. Di Ende, ia mengisi waktunya dengan membaca, menulis, berdiskusi, berkesenian, serta berinteraksi dengan masyarakat setempat. Ia juga membentuk kelompok sandiwara dan menjalin hubungan dengan berbagai kalangan, termasuk sejumlah tokoh agama di Ende.
Taman Renungan
Ende juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pemikiran Soekarno. Ia diketahui kerap merenung di bawah pohon sukun yang menghadap ke laut, yang kini dikenal sebagai Taman Renungan Bung Karno. Masa pengasingan di Ende menjadi salah satu bagian dari proses perenungan Soekarno mengenai dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
“Dengan berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Karno kita dapat mengenang, merenungkan perjuangan pendahulu yang penuh kesabaran, ketabahan, tidak putus asa dan terus berpikir untuk sesama,” kata Ihsan Annuha.
Menurut Ihsan, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan dan kesulitan tidak seharusnya menghentikan seseorang untuk terus berpikir, berkarya, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Jas Merah
Ketika Pidato Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-21 tanggal 17 Agustus 1966, Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno menyampaikan slogan “Jas Merah” yang merupakan singkatan dari “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Seluruh rakyat, terutama generasi penerus bangsa, agar senantiasa menghargai dan belajar dari perjuangan para pahlawan serta peristiwa masa lalu dalam membangun masa depan.
Bagi para relawan UAR, kunjungan tersebut bukan sekadar singgah di sebuah tempat bersejarah. Setelah sekitar satu setengah bulan berada di Dusun Waso mendampingi masyarakat terdampak gempa, mereka kembali diingatkan pada kisah perjuangan, ketabahan, dan pengabdian para pendahulu. Namun sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga dipahami dan dijadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan saat ini.
Kunjungan Relawan UAR ke Rumah Pengasingan Bung Karno sekaligus menjadi ruang refleksi setelah menyelesaikan misi kemanusiaan di Waso. Selama berada di lokasi bencana, para relawan menyaksikan langsung ketabahan para penyintas dalam menghadapi dampak gempa serta semangat masyarakat untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan yang normal.
Dari pengalaman tersebut, sejarah perjuangan para pendahulu dapat dipandang bukan sebagai sesuatu yang berhenti di masa lalu. Nilai ketabahan, kepedulian, dan pengabdian dapat diteruskan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan zaman, termasuk melalui kegiatan kemanusiaan dan membantu masyarakat yang mem…




