Di teras Masjid Al-Ikhwan, Desa Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang beralas karpet di atas lantai yang masih berlapis lumpur tipis, Sukimang dari Tim Psikososial Ukhuwah Al-fatah Rescue (UAR) asal Lampung ini berdiri. Di depannya duduk di kursi, korban banjir bandang Aceh Tamiang. Di kursi sebelahnya rekan satu tim juga ikut bergeliat bersama cangkir-cangkir bekam, jarum bekam, tisu, dan botol kecil minyak.
Bau tanah basah belum sepenuhnya hilang dari udara Aceh Tamiang, namun siang itu, satu per satu warga datang dengan langkah pelan. Sebagian membawa keluhan fisik yang jelas: pusing berkepanjangan, sakit pinggang, pegal-pegal, meriang, gatal-gatal, memar di kaki akibat terseret arus, hingga penyakit kronis seperti darah tinggi, asam urat, jantung.
Namun di balik itu, tersimpan keluhan lain yang jarang terucap—cemas berlebihan, sulit tidur, ketakutan setiap kali mendengar hujan turun, dan rasa lelah yang tidak kunjung hilang.
Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga meninggalkan beban pada tubuh para penyintas. Menguras lumpur, mengangkat perabot basah, dan membersihkan rumah selama berhari-hari membuat banyak warga mengalami kelelahan fisik. Di sinilah peran Sukimang dan Tim Psikososial UAR menjadi penting.
Ia bukan tenaga medis berseragam, bukan pula relawan yang membawa alat berat. Sukimang dikenal warga sebagai tukang bekam. Namun bukan tukang bekam biasa. Dalam berbagai bencana, namanya kerap muncul sebagai orang yang datang diam-diam, membuka layanan pengobatan alternatif bagi para korban.
Sukimang tidak sendiri, ada Mughiroh, Sutisna, dan Maliyah asal Jabodetabek dalam satu tim. Yang menarik, UAR mengemas pelayanan Psikososial ini dengan bekam. Ini bukan tidak ada alasan, justru dengan pelayanan bekam ini, warga jadi sehat baik fisik maupun mental.
Meskipun masih perlu penelitian lebih lanjut, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bekam dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dalam darah. Penurunan kortisol ini dapat membantu mengurangi gejala stres dan kecemasan, karena kortisol yang tinggi jangka panjang berhubungan dengan masalah mental seperti kecemasan dan depresi.
Selain itu, bekam berguna merangsang aliran darah ke area yang diperlakukan, yang dapat meningkatkan oksigenasi jaringan termasuk otak. Oksigen yang cukup bagi otak berperan penting dalam fungsi saraf dan suasana hati, sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mental.
Proses penarikan atau penekanan pada kulit selama bekam juga dapat merangsang pelepasan endorfin–hormon “perasaan baik” yang dapat memberikan efek rileksasi dan mengurangi perasaan nyeri atau ketegangan emosional.
Program pelayanan pengobatan bekam ini menjadi bagian dari respons kemanusiaan pascabencana di Aceh Tamiang oleh UAR. Di sela pembersihan lingkungan dan pemulihan fasilitas umum, layanan bekam hadir sebagai ruang pemulihan tubuh lahir dan batin.
Abdul Ghani, salah seorang warga korban bencana banjir bandang merasakan manfaat dari pelayanan bekam yang digelar oleh UAR. “Masya Allah alhamdulillah enak, setelah ditotok punggung, dan bekam kering, langsung dibekam basah. Tadinya pegal-pegal, ngangkat tangan agak berat tapi sekarang ringan alhamdulillah,” ujarnya.
Bagi Sukimang, melayani di lokasi bencana bukan hal baru. Ia mengaku terbiasa beramal di lokasi bencana di berbagai daaerah di Indonesia. Berpindah dari satu lokasi bencana ke lokasi lain. Tanpa spanduk besar, tanpa bayaran.
Sukimang menceritakan pengalamannya saat terjuan sebagai relawan bencana gempa bumi di Lombok. Ada warga korban gempa yang sakit dan sudah tidak bisa jalan, kemudian dibekam olehnya sampai kemudian bisa berjalan normal seperti semula. sebagai waujud syukur, warga tersebut memberikan uang sejumlah dua juta rupiah kepada Sukimang.
“Pak, mohon maaf, saya ke sini bukan untuk cari uang, saya diamanahkan oleh pimpinan untuk sekedar sedikit meringankan beban bapak-bapak di sini, bapak simpan saja uang itu untuk keperluan membangun kembali rumah yang hancur,” ceritanya. Bapak itu, lanjut Sukimang, langsung memeluk haru dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih.
Padahal, Sukimang sendiri bukan orang yang mampu dan baik secara finansial. Dia sendiri berangkat sebagai relawan UAR, meninggalkan rumahnya di Lampung tanpa bekal uang untuk keperluan keluarganya di rumah.
Namun yang menarik, UAR dengan jaringan Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah se-Indonesia tidak membiarkan keluarga relawan tanpa terurus. Ketua UAR Korwil Lampung, Sulaiman Abdullah memaparkan bagaimana penyantunan keluarga relawan saat berada di medan bencana.
“Tidak ada gaji, kalau ada relawan yang berangkat ke medan bencana, warga satu Riyasah (semacam kelompok pengajian terdiri dari belasan Kepala Keluarga di lingkungan pondok pesantren) akan patungan membantu kebutuhan rumah bagi keluarga yang ditinggalkan, dan ini yang selama ini berjalan di pesantren ini,’’ katanya.
Bekam, bagi Sukimang, bukan sekadar teknik pengobatan. Ia melihatnya sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan yang sederhana namun dibutuhkan. Di situasi pascabencana, ketika fasilitas kesehatan terbatas dan warga enggan mengeluh, bekam menjadi jalan tengah—mudah dijangkau, akrab dengan budaya lokal, dan memberi efek langsung yang dirasakan.
Tak jarang, kata Sukimang, warga datang bukan hanya membawa keluhan fisik. Ada yang bercerita tentang rumah yang rusak, usaha yang terhenti, atau rasa cemas setiap kali hujan turun. “Kadang orang itu cuma butuh didengarkan,” katanya pelan. “Bekamnya sebentar, ceritanya bisa lama.”
Program pelayanan pengobatan ini mendapat sambutan hangat dari warga Aceh Tamiang. Antrean tidak panjang, tetapi terus mengalir. Relawan lain, Mughiroh mengungkap, di awal pelayanan, mereka berempat melayani 43 orang pasien. “Alhamdulillah, Ibu-ibu, bapak-bapak, hingga relawan yang kelelahan ikut merasakan manfaatnya,” katanya.
Sutisna asal Kedaung Jakarta Barat, ikut bercerita betapa antusiasnya warga menerima pelayanan bekam ini. “Antusias sekali, banyak yang baru kenal dengan teknik pengobatan bekam dan mereka mengaku merasakan manfaatnya,” katanya. Selain itu Sutisan mengaku bahwa pelayanan bekam ini berdampak secara signifikan terhadap jumlah kehadiran warga dalam shalat berjamaah di masjid tersebut.
Di sudut lain, anggota wanita Tim Psikososial, Maliyah yang juga istri dari Sutinsa sedang memberikan pelayanan totok punggung dan bekam kepada seorang ibu paruh baya, Nur Aida, yang mengeluhkan pegal-pegal pada leher bahkan tidak bisa tengok kanan kiri. Sambil membekam, ia mengajak berbincang ringan, sesekali menyelipkan doa.
Bagi Bu Maliyah, pijat tradisional bukan sekadar teknik merilekskan otot, tetapi cara menghadirkan rasa aman. “Kalau badannya tenang, hatinya biasanya ikut tenang,” katanya. Nur Aida bersukur merasakan manfaat dari pelayanan tersebut. “Alhamdulillah tadinya leher enggak bisa gerak, ini sudah bisa goyang-goyang,” katanya.
Masjid Al-Ikhwan hari itu dipenuhi suasana hangat. Aroma minyak terapi bercampur dengan bau kopi yang diseduh warga secara swadaya. Anak-anak duduk di serambi masjid, memperhatikan orang tua mereka yang tengah diterapi. Beberapa tertawa kecil saat melihat gelas bekam, sebagian lain memeluk kaki ibunya, seolah memastikan semuanya baik-baik saja.
Pelayanan terus berjalan tanpa henti hingga menjelang matahari terbenam. Tidak ada tarif, tidak ada batasan jumlah. Yang ada hanyalah semangat melayani. Bagi UAR pelayanan kesehatan ini merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang lebih luas—memulihkan martabat dan harapan penyintas bencana.
Program ini menurut Ketua Umum UAR, H. Endang Sudrajat menunjukkan bahwa layanan psiko-sosial tidak selalu harus hadir dalam bentuk konseling formal. Di tengah masyarakat yang akrab dengan pengobatan tradisional dan spiritual, bekam dan pijat menjadi jembatan yang efektif. Melalui sentuhan, percakapan, dan doa, proses pemulihan berlangsung secara alami.
Di Aceh Tamiang, pemulihan pascabencana tidak hanya terjadi lewat alat berat dan bantuan logistik. UAR hadir melalui sentuhan tangan, cangkir bekam, dan kesediaan seseorang untuk duduk bersama para penyintas. Di antara lumpur dan sisa banjir bandang, UAR meringankan beban tubuh agar harapan bisa kembali ditegakkan.
Saat matahari mulai condong ke barat, wajah-wajah yang semula tegang tampak lebih rileks. Beberapa pasien pamit sambil mengucapkan terima kasih, sebagian lainnya berjanji akan kembali jika layanan dibuka lagi. Mereka pulang bukan hanya dengan tubuh yang lebih ringan, tetapi juga dengan hati yang lebih kuat.
Di tengah puing-puing dan lumpur Aceh Tamiang, layanan sederhana ini menjadi oase. Bekam, pijat, dan doa menjadi saksi bahwa kemanusiaan tetap hidup. Bahwa di balik bencana, selalu ada tangan-tangan yang hadir bukan hanya untuk menolong, tetapi untuk menemani proses bangkit—perlahan, namun penuh harapan.

