Peristiwa Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. [qur’an surat : al-Isra : 1]

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu tanda istimewa yang membedakan perjalanan sejarah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga Islam. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab, setahun sebelum hijrah ke Madinah, dan merupakan mu’jizat yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang dimaksud dengan Isra’ adalah perpindahan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis. Dalam perjalanan Isra’ tersebut, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Malaikat Jibril, menggunakan kendaraan Buroq yang memungkinkan jarak antara kedua masjid itu ditempuh dalam waktu yang luar biasa singkat, melampaui kemampuan manusia biasa.

Adapun yang dimaksud dengan Mi’raj adalah peristiwa yang terjadi setelah Isra’, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke langit yang tinggi, didampingi oleh Malaikat Jibril, hingga mencapai Sidratul Muntaha. Mi’raj merupakan salah satu peristiwa ghaib yang wajib diimani oleh setiap Muslim, karena keterangan dan kejadiannya dijelaskan dengan gamblang dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar. [QS. an-Najm/53 : 13-18]

Sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW menghadapi hari-hari yang sangat sulit dan menyedihkan. Abu Thalib, paman sekaligus pelindung beliau, meninggal dunia. Tak lama kemudian, Khadijah binti Khuwailid RA, istri sekaligus orang yang paling dekat dan mendukung Nabi SAW, juga wafat.

Kehilangan kedua sosok penting ini membuat Nabi SAW semakin rentan terhadap tekanan dan permusuhan kaum Quraisy. Tanpa pelindungnya, kaum Quraisy semakin berani menyakiti beliau. Dalam kondisi terdesak, Nabi SAW pergi ke Thoif untuk memohon pertolongan penduduknya. Namun, mereka pun menolak dan menyakitinya, sehingga kesedihan dan kegundahan hati beliau semakin bertambah.

Tahun itu kemudian dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn’, atau Tahun Kesedihan. Karena itu, Allah SWT menghibur dan menguatkan Nabi SAW melalui mu’jizat Isra’ Mi’raj, agar tekad, kekuatan, dan semangat beliau untuk mengemban da’wah tetap teguh dan semakin mantap.

Berikut adalah Kisah Peristiwa Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Peristiwa ini terjadi ketika Nabi Muhammad SAW sedang tidur di Hijr dalam Masjidil Haram, dan Malaikat Jibril mendatangi beliau. Jibril membangunkan Nabi SAW, lalu keluar bersama beliau menuju pintu masjid. Dari sana, Nabi SAW berangkat menuju Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis, menunggang Buroq. Nabi SAW menggambarkan Buroq dengan sabdanya:

“Aku didatangi Buroq, yaitu jenis hewan melata (dabbat) yang putih, tingginya melebihi himar dan di bawah bighal (keledai).”
“Kemudian aku menaikinya hingga sampai di Baitul Maqdis.”
“Maka kemudian aku mengikatnya dengan tali sebagaimana yang dilakukan para Nabi.”

Sesampainya di Al-Aqsa, Jibril datang membawa dua cawan: satu berisi khomer (minuman keras) dan satu berisi susu. Nabi SAW memilih cawan yang berisi susu, meminumnya, dan meninggalkan cawan berisi khomer. Jibril kemudian berkata:

“Engkau telah memilih kesucian. Engkau telah memilih umatmu, wahai Muhammad. Khomer telah diharamkan atas kalian.”

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Masjid Al-Aqsa bukan hanya menjadi tempat perjalanan spiritual Nabi SAW, tetapi juga salah satu titik penting dalam sejarah risalah Islam. Di sana kehadiran para Nabi di Al-Aqsa seakan menjadi simbol pembaiatan mereka kepada Nabi SAW. Dari Masjid Al-Aqsa, Nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj, yakni naik ke langit hingga bertemu Allah SWT di sidratul muntaha dan menerima perintah shalat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa naik melewati beberapa langit. Pada setiap langit, Malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya: “Siapakah yang bersamamu?” Jibril Alaihissallam menjawab,”Muhammad,” penghuni langit itupun menyambutnya.

Di langit dunia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Adam Alaihissallam , di langit kedua berjumpa dengan Nabi Isâ Alaihissallam dan Nabi Yahya Alaihissallam , di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yûsuf Alaihissallam , di langit keempat dengan Nabi Idris Alaihissallam , di langit kelima dengan Nabi Hârûn Alaihissallam , di langit keenam dengan Nabi Musâ Alaihissallam , dan di langit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrâhîm Alaihissallam yang sedang bersandar pada Baitul-Ma’mûr. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan sampai ke Shidratul-Muntahâ (langit tertinggi). Di sinilah, Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya untuk menegakkan shalat 50 kali sehari semalam.’

Merupakan sebuah hadiah dan hiburan yang khusus diperuntukkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melihat surga ketika beliau masih hidup di dunia. Rangkaian perjalanan mi’raj Rasulullah menjelaskan bahwa surga berada di atas langit ketujuh. Dan letaknya setelah Sidratul Muntaha.

“(yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. “[Quran An-Najm: 14-15].

Sebagaimana juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Hingga aku tiba di Sidratul Muntaha yang diliputi oleh warna-warna yang aku tidak tahu apa itu. Kemudian aku dihantarkan ke surga.” (Hadist Riwayat. al-Bukhari dan Muslim).

Lalu bagaimana Rasulullah menggambarkan surga dalam perjalanan mi’rajnya ini. Nabi mejelaskan ;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.” (Hadist Riwayat. al-Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Saya dimasukkan ke surga, ternyata di dalamnya ada kubah-kubah dari mutiara dan tanahnya dari misk (kasturi).” (Hadist Riwayat. al-Bukhari).

Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dua surga yang wadah airnya (gelas, bejana, dll) serta segala yang ada di dalamnya terbuat dari perak. Dua surga yang wadah airnya serta segala yang di dalamnya terbuat dari emas. Batasan antara orang-orang dan melihat Rabb mereka adalah pakaian kesombongan di wajah-Nya di surga Aden.” (Hadist Riwayat. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Aku lihat diriku sedang berada di surga. Kulihat ada Rumaisha, istrinya Abu Thalhah. Kemudian aku mendengar suara gerakan. Aku bertanya, ‘Siapa itu?” Ia menjawab, ‘Bilal’. Aku juga melihat istana yang di halamannya terdapat seoragn wanita. Aku bertanya, ‘Milik siapa ini?’ Ia menjawab, ‘Milik Umar’. Aku ingin memasukinya untuk melihat-lihat. Tapi aku teringat rasa cemburu (kepemilikan) Umar.” Umar berkata, “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, apakah terhadap dirimu patut aku cemburu.” (Hadist Riwayat. al-Bukhari).

Akan tetapi dalam perjalanan kembali dari mi’râj ini, ketika sampai di tempat Nabi Musâ Alaihissallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan ini, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Musâ Alaihissallam meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan saran itu, dan Allah Azza wa Jalla pun berkenan memberi keringanan. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak kembali dan berjumpa dengan Nabi Musâ Alaihissallam , beliau Alaihissallam meminta Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar meminta keringanan lagi, dan saran itu pun dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Allah Azza wa Jalla berkenan memberi keringanan. Hingga akhirnya, kewajiban shalat itu hanya lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musâ Alaihissallam meminta Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keringanan lagi, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku sudah memohon kepada Rabbku sehingga aku merasa malu,” lalu terdengar suara: “Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku”.

Perjalan Kembali

Sepulang dari perjalanan isra’ mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu gembira dan segera memberi kabar baik ini untuk para sahabatnya. Melihat keadaan Bilal, beliau langsung menceritakannya kepada khalayak. Kemudian beliau ungkapkan dengan ucapan, “Sungguh beruntung Bilal.” Beliau doakan Bilal dan menanyakan amal apa yang membuatnya begitu cepat masuk ke dalam surga.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,
“Pada malam isra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memasuki surga. Saat itu beliau mendengar suatu suara. Beliau bertanya, ‘Hai Jibril, suara apa itu?’ Jibril menjawab, ‘Itu Bilal sang muadzin’. Saat bertemu dengan khalayak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh beruntung Bilal. Aku melihatnya dalam keadaan demikian dan demikian’.” (Hadsit Riwayat. Ahmad).

Diriwayatkan oleh al-Hakim, Dari Buraidah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Bilal, dengan amal apa kamu mendahului diriku di surga? Sungguh semalam aku memasuki surga. Aku mendengar derap bersuaramu (suara sandalnya) di depanku.” Bilal mennjawab, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melakukan suatu dosa sama sekali melainkan (setelahnya) aku sholat dua rakaat. Dan tidaklah diriku berhadats (batal wudhu), melainkan aku langsung wudhu lagi dan sholat dua rakaat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar, “Dengan amalan inilah (engkau begitu cepat masuk surga).” (Hadist Riwayat. al-Hakim).

Dalam kitab-kitab sunan, kedudukan Umar dan Bilal radhiallahu ‘anhuma ini dikisahkan secara bersamaan. Diriwayatkan oleh at-Turmudzi, dari Buraidah radhiallahu ‘anhu ia berkata,
“Di pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal. Beliau bertanya, ‘Hai Bilal, apa yang membuatmu mendahuluiku di surga? Aku memasuki surga, dan tak kudengar apapun kecuali ada suara di depanku. Semalam aku memasuki surga, aku mendengar ada derap suara di depanku.
Aku juga mendatangi sebuah istana persegi yang terbuat dari emas. Aku bertanya, ‘Istana siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki Arab’. Kujawab, ‘Aku seorang laki-laki Arab. Punya siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki Quraisy’. Kujawab lagi, ‘Aku juga seorang Quraisy. Milik siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Kukatakan, ‘Akulah Muhammad. Milik siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik Umar bin al-Khattab’.
Bilal berkata, ‘Hai Rasulullah, tidaklah aku mengumandangkan adzan kecuali setelahnya aku shalat dua rakaat. Dan tidak pula aku berhadats (wudhuku batal), kecuali aku berwudhu kembali. Dan aku memandang untuk Allah dua rakaat kupersembahkan’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, ‘Karena dua rakaat inilah’.” (HR. At-Turmudzi dalam Kitab Manaqib, Bab Manaqib Umar bin al-Khattab 3689 dan Ahmad 23090).

Sekian, Wallohu a’lam bishawab

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *