Jakarta, NEROPONG.COM – Pendekatan Kementerian Agama dalam mengenalkan layanan Kantor Urusan Agama (KUA) di ruang publik menuai apresiasi masyarakat, termasuk Generasi Z.
Melalui kegiatan Gas Nikah dan Gemah (Gerakan Jum’ah) KUA ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) di kawasan Car Free Day (CFD) Kuningan, Jakarta, edukasi tentang pencatatan nikah dan kepedulian lingkungan dikemas secara interaktif dan humanis.
Shaka (24), warga Salemba, menilai kegiatan tersebut sebagai cara baru yang menarik untuk mengenalkan layanan KUA.
Ia mengaku tidak menyangka ada layanan konsultasi pernikahan di tengah aktivitas CFD.
“Wah, ini ‘suhu marketing KUA turun gunung’. Tapi justru menarik banget, karena jadi dekat ke masyarakat. Pelayanannya terasa lebih humanis dan enggak kaku,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan, Minggu 26 April 2026.
Menurut Shaka, kehadiran Gas Nikah Corner memudahkan masyarakat memahami prosedur pernikahan tanpa harus datang langsung ke kantor KUA. Ia juga mengapresiasi pendekatan santai para penghulu saat berinteraksi dengan pengunjung.
Shaka menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada edukasi pernikahan, tetapi juga mengangkat isu lingkungan.
Melalui senam bersama, gerakan semut atau aksi pungut sampah, serta penyampaian pesan di panggung utama, masyarakat diajak terlibat langsung dalam aksi nyata.
Senada dengan itu, Zia (22), warga Kemang, mengaku tertarik karena konsep kegiatan yang dinilainya tidak biasa.
Ia menilai pendekatan yang digunakan lebih relevan dengan gaya hidup anak muda.
“Aku lihat ada Gas Nikah Corner, terus ada poster edukasi, kuis, sampai ajakan pungut sampah. Jadi bukan cuma soal nikah, tapi juga soal lingkungan. Cara penyampaiannya juga santai, jadi lebih gampang dipahami,” katanya.
Menurut Zia, alur kegiatan yang dimulai dari panggung utama, dilanjutkan senam bersama, hingga tenda layanan membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam setiap tahapan kegiatan.
Ia juga mengapresiasi kehadiran penghulu yang berinteraksi langsung dengan masyarakat di ruang publik. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat layanan KUA terasa lebih terbuka dan mudah dijangkau.
“Menurut aku ini cara yang bagus bange, jadi kita enggak merasa digurui. Tapi justru diajak ngobrol dan paham pelan-pelan,” tambahnya.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengungkapkan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan layanan KUA yang lebih dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, CFD menjadi ruang strategis untuk mengedukasi publik sekaligus membangun kesadaran bersama.
“Kami mengajak setiap hari Jumat untuk meluangkan waktu setengah jam sampai satu jam membersihkan lingkungan kerja, lalu meluas ke lingkungan sekitar.
Ini bagian dari Gerakan KUA ASRI yang kami dorong agar berdampak luas,” ujar Abu Rokhmad.
Ia menambahkan, gerakan tersebut tidak hanya menyasar lingkungan kerja KUA, tetapi juga masyarakat luas sebagai bagian dari penguatan nilai keagamaan berbasis kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, persoalan sampah menjadi tantangan bersama yang perlu direspons secara kolektif.
Selain itu, Abu juga menekankan pentingnya peningkatan pencatatan nikah.
Ia menyebut tren pencatatan nikah pada 2025 mengalami kenaikan dan perlu terus didorong melalui edukasi yang lebih luas serta pendekatan yang kontekstual.
“Kalau pencatatan pernikahan meningkat, itu artinya kita sedang mempromosikan sunnah Rasul sekaligus mendorong masyarakat untuk taat pada Undang-Undang Perkawinan,” tegasnya.






