Ridha atas Keputusan Allah sebagai Obat Hati

Mastuki (Kepala Pusbangkom SDM)

Pagi itu, langit kota seperti menahan tangis. Awan menggantung rendah di atas atap madrasah unggulan yang berdiri anggun di tengah hiruk-pikuk jalan raya. Di gerbang, satpam menyapa murid-murid dengan senyum yang tetap hangat meski angin dingin menyusup dari sela pepohonan. Di koridor lantai dua, poster KBC terpajang rapi: “Belajar dengan Cinta, Bertindak dengan Rahmah.” Namun pagi itu, ada satu hati yang tidak sedang “rapi”.

Di depan ruang kelas, Naila berdiri dengan map cokelat berisi berkas. Tangannya gemetar. Bukan karena udara dingin, melainkan karena kabar yang membuat dunia terasa miring. Ia gagal lolos seleksi beasiswa yang ia idam-idamkan. Padahal ia sudah belajar sampai larut, membatasi waktu bermain, menahan diri dari banyak hal. Ia membayangkan ibunya akan tersenyum bangga, ayahnya akan memeluknya, dan hidupnya akan bergerak ke arah yang ia rencanakan.

Ternyata tidak.

Telepon dari panitia seleksi datang kemarin sore. Singkat. Formal. Tanpa ruang untuk tawar-menawar. Setelah itu, Naila pulang, menutup pintu kamar, dan menangis pelan. Ia tidak ingin ibunya melihat. Ia takut ibunya kecewa. Ia takut ayahnya sedih. Ia takut orang-orang yang ia sayangi menganggapnya “tidak cukup”.

Sore tadi, ayahnya hanya berkata, “Naila, sudah takdir. Sabar ya.”

Kalimat itu benar. Tapi bagi hati yang sedang terluka, kalimat benar sering terdengar seperti batu.

Di madrasah, Naila membawa luka itu seperti membawa botol kaca. Ia berusaha menahannya agar tidak pecah, tetapi setiap langkah membuatnya bergetar.

Naila masuk ruang BK dengan perasaan setengah hati. Dari dalam ruangan, Ustadzah Rania—guru yang juga fasilitator KBC—menyambutnya tanpa banyak tanya. Meja kecil di sudut ruangan ada teh hangat, ada kotak tisu, ada suasana yang tidak menghakimi. Ustadzah Rania tidak menginterogasi “kenapa kamu gagal”. Ia bertanya sesuatu yang lebih lembut:

“Naila… kamu sedang kecewa, ya?”

Naila mengangguk. Matanya berkaca. “Saya… sudah berusaha, Ustadzah. Saya merasa… Allah nggak adil.”

Kalimat itu keluar seperti retakan. Bukan karena Naila tidak beriman. Justru karena ia beriman, ia berani jujur. Ia sedang terluka.

Ustadzah Rania tidak kaget. Ia mengangguk pelan.

“Terima kasih sudah jujur,” katanya. “Di KBC, kita tidak menutup luka dengan slogan. Kita mengobatinya dengan makna.”

Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat, lalu berkata lirih seolah sedang menuntun hati anak itu pulang:

“Naila… ada satu obat hati yang sering sulit ditelan. Namanya ridha.”

Ridha Bukan Pasrah Kosong

Ridha sering disalahpahami sebagai menyerah tanpa usaha. Padahal ridha justru lahir setelah usaha. Ridha itu bukan “aku berhenti berjuang”. Ridha itu “aku sudah berjuang sebaik-baiknya, dan aku percaya Allah memilihkan yang terbaik—meski aku belum paham sekarang.”

Al-Qur’an menggambarkan kedamaian yang tumbuh dari jiwa yang tenang:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ

ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

“Wahai jiwa yang tenang… kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28)

Allah mengingatkan: boleh jadi kita membenci sesuatu padahal ia baik, dan menyukai sesuatu padahal ia tidak baik karena pengetahuan kita terbatas, sementara Allah Maha Tahu.

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.…” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ustadzah Rania menatap Naila dengan mata yang lembut:

“Ridha itu bukan berarti kamu tidak boleh sedih. Ridha itu berarti kamu tidak menjadikan sedih sebagai alasan untuk putus asa atau membenci takdir. Ridha itu memindahkan kamu dari ‘mengapa ini terjadi padaku’ menjadi ‘apa yang Allah ingin ajarkan melalui ini’.”

Naila menunduk. Suara hujan di luar jendela terdengar lebih jelas.

Ustadzah Rania mengambil sebuah kertas kosong. Ia menggambar dua pintu.

“Pernah tidak,” katanya, “kamu memaksa satu pintu terbuka, tapi Allah menahannya?”

Naila mengangguk pelan.

“Kadang Allah menutup pintu bukan untuk mengusirmu, tapi untuk mengalihkanmu ke pintu lain yang lebih selamat. Kita ini sering jatuh cinta pada rencana, bukan pada Allah.”

Ustadzah Rania membiarkan kalimat itu turun.

“Padahal mencintai Allah berarti percaya bahwa keputusan-Nya lebih luas dari bayangan kita.”

Naila berbisik, “Tapi sakit, Ustadzah…”

“Ya,” jawab Ustadzah Rania jujur. “Sakit itu manusiawi. Ridha bukan menghapus sakit dalam semalam. Ridha adalah memilih untuk tetap berjalan—meski sakit itu masih menempel.”

Sejenak Ustadzah Rania membiarkan Naila mengusap matanya yang sembab. Ia dekati seraya  menjelaskan dengan bahasa yang membuat Naila merasa dimengerti.

1) Ridha menyembuhkan “kecanduan kontrol”

Banyak luka batin datang karena kita ingin semua sesuai rencana. Ridha mengajarkan: usaha milik kita, hasil milik Allah.

2) Ridha menyembuhkan “iri dan membandingkan”

Saat gagal, kita mudah melihat keberhasilan orang lain seperti pisau. Ridha membuat kita berkata, “Rezeki orang lain bukan ancaman bagiku.”

3) Ridha menyembuhkan “wajah muram terhadap hidup”

Ridha mengembalikan cahaya. Hidup tidak berhenti pada satu gagal.

4) Ridha menyembuhkan “prasangka buruk kepada Allah”

Ridha mengubah prasangka menjadi husnuzan. Allah tidak membenciku. Allah sedang membentukku.

Menjadikan Ridha Sebagai Budaya Hati

Panca Cinta-1 memberi panduan, ridha bukan sekadar tema ceramah. Ridha harus menjadi keterampilan batin yang dipraktikkan. Di madrasah/sekolah, banyak murid takut gagal bukan karena gagal itu buruk, tetapi karena gagal sering dipermalukan. KBC mengajarkan budaya:

  • gagal bukan aib
  • gagal adalah data untuk bertumbuh
  • guru menuntun refleksi: “apa pelajarannya?” bukan “siapa yang salah?”

Ustadzah Rania mengajak Naila menulis tiga hal:

  1. apa yang sudah kamu usahakan
  2. apa yang kamu pelajari dari kegagalan ini
  3. langkah kecil apa yang akan kamu lakukan minggu ini?

Ustadzah mengajarkan ridha yang bergerak: menerima takdir, lalu menata langkah.

Di pesantren, ridha sering dilatih lewat khidmah: tugas-tugas kecil yang tidak glamor. Ridha lahir saat santri berkata: “Saya lakukan ini bukan untuk pujian, tapi untuk Allah.” Khidmah menjadi latihan menerima peran, menerima proses, menerima pembentukan.

Keluarga dapat menerapkan nilai ini dengan “bahasa ridha yang tidak mematikan harapan”. Jika di rumah masih sering ada kalimat yang benar tapi membekukan: “Sudah takdir.” Panca Cinta mengusulkan kalimat yang benar sekaligus menumbuhkan:

  • “Kita sedih dulu, tidak apa-apa.”
  • “Kita belajar dari ini.”
  • “Kita cari jalan lain.”
  • “Allah tidak salah menulis cerita.”

Ridha bukan mematikan ambisi. Ridha adalah menjaga ambisi tetap beradab, tidak melawan langit.

Ridha Adalah Seni Mencintai Allah

Kembali ke cerita Naila yang sedang menikmati ridha yang mulai tumbuh di hatinya. Ustadzah Rania mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah catatan kecil yang ia simpan sendiri. Doa yang ia baca ketika hidup terasa berat.

“Ini yang sering saya baca,” katanya pelan, “ketika saya tidak mengerti keputusan Allah.”

Lalu ia memandu Naila menarik napas pelan. Mengajak mencoba ucapkan doa:
“Ya Allah, aku menerima pilihan-Mu. Beri aku hati yang tenang. Tunjukkan pintu yang Engkau ridhai.”

Naila mengikuti. Suaranya kecil. Tapi ada sesuatu yang mulai berubah. Bukan karena masalah selesai, tetapi karena ia merasa tidak sendirian.

“Ustadzah,” katanya lirih, “jadi… ridha itu bukan berarti saya harus pura-pura bahagia?”

Ustadzah Rania tersenyum. “Tidak. Ridha itu bukan topeng. Ridha itu akar. Kamu boleh sedih, tapi kamu tidak tumbang. Kamu boleh kecewa, tapi kamu tidak putus asa. Kamu boleh menangis, tapi kamu tetap percaya Allah baik.”

Naila mengusap air mata. Ia menatap jendela. Hujan di luar mulai reda.

Sore itu, setelah jam sekolah selesai, Naila berjalan pulang melewati gerbang. Ia melihat langit mulai terbuka sedikit. Jalanan masih basah, tetapi ada cahaya yang memantul di aspal. Seperti harapan yang muncul di tempat yang tidak diduga.

Di rumah, ia akan tetap merasakan sedih. Ia tidak tiba-tiba kebal. Tapi ia membawa satu obat: ridha. Obat yang tidak selalu mengubah keadaan, tetapi mengubah cara kita memeluk keadaan.

Ridha adalah seni mencintai Allah:
menerima keputusan-Nya tanpa kehilangan hormat,
menangis tanpa menyalahkan,
berusaha tanpa merasa paling berkuasa,
dan berjalan—meski belum tahu ujungnya.

Para pencinta tidak selalu mendapatkan apa yang mereka minta.
Tetapi mereka selalu mendapatkan apa yang Allah pilihkan:
pelajaran, pemurnian, dan jalan pulang yang lebih dalam. (Mastuki, Kepala Pusbangkom SDM)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *