UAR Dorong Peningkatan Kapasitas, Tugaskan Anggota Ikuti Talk Show Manajemen Kesiapsiagaan Bencana

Jakarta, NEROPONG.COM – Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kebencanaan dengan menugaskan sejumlah pengurus pusat untuk mengikuti kegiatan Talk Show dan Bedah Buku Manajemen Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Komunitas di Universitas Budi Luhur, Ciledug, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, Kamis 7 Mei 2026.

Pengurus pusat UAR yang hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya Muqarrobin Al Ayubi, Al Mujahid, Nurul Priansah, Syakuri, serta M. Tri Habibie (online). Kegiatan berlangsung pukul 14.00 hingga 16.30 WIB secara hybrid dengan diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur.

Bacaan Lainnya

Para peserta yang berasal dari kalangan BASARNAS, BNPB, BPBD, TNI, Polri, relawan kebencanaan, akademisi, mahasiswa, hingga organisasi masyarakat yang bergerak di bidang kemanusiaan dan penanggulangan bencana mengikuti acara dengan antusias.

Talk show tersebut membedah buku Manajemen Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Komunitas karya Prof. Dr. Ir. Arief Wibowo, M.Kom., Kolonel Kav Agung Nur Cahyono, S.I.P., M.Tr (Han), dan Agus Wiradi yang diterbitkan oleh Igakerta Publisher. Acara dipandu langsung oleh Prof. Arief Wibowo yang juga menjadi salah satu penulis buku tersebut.

Dalam pemaparannya, Prof. Arief Wibowo menegaskan bahwa Indonesia merupakan wilayah dengan risiko multi bencana yang tinggi sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi kebutuhan mutlak.

“Kita hidup dalam zona risiko multi bencana. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung berapi merupakan realita yang harus dihadapi masyarakat Indonesia. Yang bisa kita ubah adalah tingkat kesiapan kita,” ujarnya.

Menurutnya, kesiapsiagaan komunitas tidak selalu membutuhkan teknologi canggih, tetapi lebih kepada kesiapan dasar yang dipahami bersama oleh masyarakat. “Hal sederhana tapi menyelamatkan nyawa adalah kesiapsiagaan. Yang dibutuhkan komunitas adalah perlengkapan dasar yang terencana, tersedia, dan dipahami oleh seluruh warga,” katanya.

Ia juga menjelaskan tiga kunci kesiapsiagaan komunitas, yakni latihan rutin, kesiapan sistem, dan pemahaman terhadap risiko wilayah. “Simulasi dan gladi harus dilakukan secara rutin agar respons masyarakat menjadi refleks, bukan panik. Selain itu harus ada struktur tim, jalur komunikasi, dan prosedur yang jelas,” tambahnya.

Sementara itu, Kolonel Kav Agung Nur Cahyono, S.I.P., M.Tr (Han) dalam materinya bertajuk Penguatan Komunitas Dalam Kesiapan Menghadapi Bencana menyoroti masih rendahnya kesiapan sebagian komunitas dalam menghadapi situasi darurat.

“Banyak komunitas belum memiliki perlengkapan dasar kesiapsiagaan, jarang melakukan latihan, dan belum terorganisir dengan baik. Tanpa struktur yang jelas, penanggulangan bencana menjadi tidak efektif,” ujarnya.

Sedangkan Agus Wiradi dari Potensi SAR Cakrawala memaparkan pentingnya standarisasi kesiapsiagaan berbasis RT sebagai organisasi masyarakat paling dasar.

“RT harus memiliki kajian potensi bencana, titik kumpul yang disosialisasikan kepada warga, serta data kependudukan terpadu yang memiliki cadangan file saat kondisi darurat,” jelas Agus Wiradi.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan cadangan pangan dan sumber air bersih di lingkungan masyarakat. “Cadangan pangan dan sumber air bersih harus dipetakan sejak awal, termasuk sumur milik warga yang sewaktu-waktu dapat digunakan bersama ketika terjadi keadaan darurat,” tambahnya.

Keikutsertaan pengurus Ukhuwah Al-Fatah Rescue dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi untuk memperkuat wawasan, kapasitas, dan kesiapsiagaan relawan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di masyarakat. [AM]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *