JAKARTA | NEROPONG.COM -Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, Perkumpulan AQL menggelar ajang akbar bertajuk World Quranic Civilization Forum 1448 H.
Forum internasional bertema “Hijrah Arah Keluarga Qurani” tersebut menghadirkan ulama, akademisi, dan pemikir Muslim dari berbagai negara untuk membahas penguatan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan peradaban Islam.
Sejumlah tokoh yang hadir sebagai pembicara di antaranya Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB Prof. Euis Sunarti, ulama asal Mesir Prof. Ahmad Isa Al Masarawy, Prof. Sami Muhammad Rabi’ Al Syarif, serta Prof. Muhammad Khair Al Ghabani.
Pengarah WQCF 1448 H, atau yang akrab disapa UBN menegaskan bahwa forum ini merupakan titik awal gerakan kebangkitan keluarga berbasis Al-Qur’an yang akan dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kita ingin ada program Al-Qur’an bertaraf internasional yang lahir dari Indonesia dengan menghadirkan tokoh-tokoh Al-Qur’an nasional maupun internasional. Ini baru permulaan, hanya sebagai trigger saja,” ujar UBN.
Menurutnya, persiapan forum tersebut dilakukan hanya dalam waktu dua pekan. Meski demikian, ia menargetkan World Quranic Civilization Forum menjadi agenda tahunan berskala global yang menghadirkan para pemikir dan tokoh Islam dunia.
“Kami ingin ini menjadi World Quranic Civilization Forum setiap tahun. Insya Allah ke depan lebih besar lagi, menghadirkan tokoh-tokoh formal maupun informal dari seluruh dunia,” katanya.
Forum internasional tersebut menghadirkan pembicara diantaranya Prof. Dr. Ahmad Isa Al Masarawy (Tokoh Al-Qur’an Internasional dari Mesir), Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy Syarif (Sekjen Asosiasi Universitas Islam Internasional, Mesir), Prof. Dr. Muhammad Khaer Al-Ghubani (Ketua Asosiasi Universitas Internasional, Suriah), serta Assoc. Prof. Raudlotul Firdaus Bt Fatah Yasin dari International Islamic University Malaysia.
Al-Qur’an Sebagai Operating System Kehidupan
UBN menjelaskan tema utama forum tahun ini adalah bagaimana menjadikan Al-Qur’an sebagai sistem operasi atau operating system dalam kehidupan keluarga Muslim.
Menurutnya, selama ini banyak umat Islam mencintai Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an, dan mengajak kembali kepada Al-Qur’an, tetapi belum menjadikannya sebagai sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan keluarga.
“Rekomendasi paling penting dari forum ini adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai operating system keluarga. Selama ini Al-Qur’an baru menjadi sesuatu yang dicintai, tetapi belum menjadi SOP dan operating system dalam jiwa kita,” ujarnya.
Ia mengibaratkan manusia seperti perangkat yang membutuhkan sistem operasi agar dapat berjalan dengan baik.
Dalam pandangannya, tauhid menjadi fondasi utama sebelum nilai-nilai Al-Qur’an dapat benar-benar berfungsi sebagai sistem kehidupan.
“Operating system itu dimulai dari tauhid. Setelah itu syariat menjadi fondasinya, lalu melahirkan akhlak dan peradaban,” jelasnya.
Gerakan Keluarga Cinta Quran
UBN menegaskan bahwa WQCF bukan sekadar forum diskusi atau kelas parenting biasa. Ia ingin forum ini melahirkan gerakan keluarga yang mampu menghadapi berbagai tantangan moral dan sosial yang semakin kompleks.
Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari krisis kepemimpinan, penyalahgunaan narkoba, judi online, pinjaman online, hingga berbagai bentuk degradasi moral yang mengancam generasi muda.
Karena itu, keluarga harus kembali menjadi benteng utama dalam menjaga karakter bangsa.
“Saya tidak ingin ini hanya menjadi kelas parenting. Ini adalah family movement atau gerakan kebangkitan keluarga,” tegasnya.
Sebelum forum ini digelar, UBN mengaku telah membentuk berbagai komunitas pembinaan keluarga seperti Komunitas Bunda Hajar untuk para ibu dan Komunitas Ayah Ibrahim untuk para ayah.
Ke depan, peserta forum akan mengikuti pembinaan berkelanjutan melalui grup pendampingan, mutabaah mingguan, kelompok kecil, hingga kalender takwa yang telah disusun sebagai panduan kehidupan keluarga selama satu tahun penuh.
Selain menjadikan Al-Qur’an sebagai operating system keluarga, UBN juga menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an sebagai panduan untuk membaca pola kehidupan dan peradaban.
Menurutnya, Al-Qur’an tidak hanya berisi ajaran ibadah, tetapi juga memberikan pola-pola atau sunnatullah yang dapat menjadi pedoman dalam memahami masa depan.
“Al-Qur’an juga harus dipahami sebagai panduan untuk melihat pola kehidupan. Bangsa yang hancur memiliki pola tertentu, bangsa yang kuat juga memiliki pola tertentu. Begitu juga keluarga dan individu,” ujarnya.
Ia berharap forum tersebut menjadi momentum awal lahirnya gerakan keluarga Qurani yang mampu memperkuat ketahanan moral masyarakat Indonesia di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial.
“Dari keluarga yang kuat akan lahir generasi yang kuat. Dan dari generasi yang kuat akan lahir peradaban yang kuat,” katanya.






