ACEH TAMIANG, Neropong.com – Kepulangan relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) dari Aceh Tamiang, Senin 2 Februari 2026, berlangsung penuh haru setelah rangkaian misi kemanusiaan berakhir dan meninggalkan kenangan, ukhuwah (persaudaraan), dan jejak pengabdian di tengah masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Selama dua bulan sejak Akhir November 2025 hingga akhir Januari 2026 sebanyak 120 relawan UAR yang diberangkatkan dari berbagai wilayah Sumatera dan Jawa telah melaksanakan giat respon bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Misi kemanusiaan tersebut secara resmi diakhiri dengan gelar Tabligh Akbar Penutupan Kegiatan di Masjid Darul Mukhlisin, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang pada Ahad 1 Februari 2026.
Usai tabligh akbar para pejuang kemanusiaan mulai meninggalkan Serambi Mekkah yang dicintai. Sebanyak 45 personel UAR yang berasal dari Pekanbaru, Palembang, Jambi, Pontianak dan wilayah Pulau Jawa, Senin pagi (2/2) berangkat dari Posko Utama Masjid Al-Ikhwan Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, menuju Posko UAR Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara menggunakan dua truk TNIAD-Kodim 0117 Aceh Tamiang.
Proses kepulangan berlangsung dalam suasana haru. Sejumlah warga tampak mengantar keberangkatan para relawan dengan lambaian tangan dan doa. Beberapa di antaranya mengucapkan “fii amanillah (semoga dalam penjagaan Allah)” saat truk relawan mulai bergerak meninggalkan lokasi.
Dari atas truk, salah seorang relawan menjawab dan menyampaikan harapannya, “Aamiin. Insya Allah kita bertemu karena Allah dan berpisah juga karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasanya sedih meninggalkan Aceh, semoga Aceh cepat pulih,” ujarnya.
Ungkapan perpisahan juga disampaikan oleh Supriadi, relawan UAR asal Lampung, yang telah lebih dulu kembali ke daerah asalnya. Melalui pesan yang dibagikan kepada sesama relawan, ia menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan selama bertugas di medan bencana. “Saudaraku semua, selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan dan mohon maaf atas segala kekhilafan selama kita berada di medan bencana. Saya cinta kalian semua,” tulisnya.
Sementara itu, relawan UAR asal Kalimantan Barat, Tulus Wijaya, menegaskan bahwa perpisahan para relawan bukanlah akhir dari perjuangan kemanusiaan. Ia menyebut ukhuwah yang terbangun selama misi kemanusiaan akan tetap terjaga. “Perpisahan ini hanyalah secara fisik, bukan hati dan niat. Ukhuwah yang terbangun di medan rescue insya Allah tetap terjaga hingga akhir hayat,” tulisnya.
Setelah bermalam di Posko UAR Tanjung Pura, para relawan melanjutkan perjalanan pulang ke daerah masing-masing. Ketua UAR Korda Tanjung Pura, Kader Munir, menjelaskan bahwa satu relawan kembali ke Teluk Kuantan, Riau, dan 13 relawan menuju Palembang menggunakan bus. Sementara itu, 31 personel UAR lainnya kembali ke Jakarta menggunakan Kapal KM Kelud melalui Pelabuhan Belawan.
“Sebanyak 31 relawan UAR diperkirakan akan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Tiga relawan asal Kalimantan langsung pulang ke Pontianak dari Medan,” ujar Sekretaris Divisi Penanggulangan Bencana (PB) UAR, M. Tri Habibie.Pontianak
Para relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue setelah tiba di Pelabuhan Tanjung Periok-2 akan singgah lebih dahulu di Markas UAR Pusat , Cileungsi, Kabupaten Bogor. Mereka dijadwalkan akan menerima penghargaan dari Ketua Umum/Pembina UAR dalam acara Taklim Akhir Sya’ban yang akan diselenggarakan pada Ahad, 8 Februari 2026 di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi.
Kepulangan para relawan tersebut menandai berakhirnya satu fase misi kemanusiaan UAR di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh Tamiang. Meski demikian, semangat kemanusiaan dan ukhuwah yang terbangun selama dua bulan pengabdian di lokasi bencana diharapkan tetap terjaga dan menjadi bekal dalam misi-misi kemanusiaan berikutnya. [am]






