Lumpur masih melekat di lantai rumah warga ketika kabar itu datang. Di Aceh Tamiang, di tengah tugas kemanusiaan pasca banjir bandang, Salman Alfarisi berdiri terpaku. Dunia seakan berhenti berputar. Bukan karena letih, bukan pula karena luka fisik, melainkan karena satu kalimat yang menghantam batin paling dalam: ibunya telah dipanggil oleh Allah SWT.
Salman adalah relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR). Ia juga seorang tenaga pendidik di Madrasah Al-Fatah Ciamis Lampung Utara. selain guru, Salman juga mengais rezeki dengan berdagang jajanan pasar.
Di rumah, ia adalah ayah dari lima anak—Arkhan Said Alfaris, Qais Khoir Alfaris, Raisya Nuri Alfaris, Umar Hanan Alfaris, dan Wilza Aufa Alfaris—serta suami dari Hikmatussholihat. Di balik semua peran itu, ia adalah seorang anak yang sangat mencintai ibunya, Sutarsih.
Perjalanannya menuju Aceh Tamiang bukan perjalanan ringan. Tujuh hari perjalanan darat dan laut, lalu tujuh hari pengabdian di lokasi bencana. Hampir setengah bulan Salman meninggalkan rumah, anak-anak, dan ibunya yang sejak awal memang dalam kondisi sakit.
Sejak awal sudah ada teman yang menyarankan agar dia menunda tugasnya ke Aceh Tamiang karena kondisi ibunya yang sudah sakit-sakitan. Namun ia tetap berangkat dengan dua niat yang ia yakini sebagai jalan kebaikan: menunaikan amanah kemanusiaan, dan mengharap kesembuhan ibunda melalui doa safar, doa yang diyakini mustajab di sisi Allah.
Selama bertugas, Salman bekerja dalam diam. Membersihkan lumpur, mengangkat perabot warga, menyemprot lumpur-lumpur yang memenuhi ruangan rumah dan masjid warga korban banjir bandang, serta membantu korban banjir bangkit dari keterpurukan.
Di sela tugas, ia kerap menyendiri sejenak, menengadahkan tangan, melafalkan doa untuk ibunya. Jarak memisahkan raga, tetapi doa menjadi jembatan yang ia yakini tak pernah terputus. Ujian pertama datang ketika ia menerima kabar bahwa ibunya kembali masuk rumah sakit dan harus dipindahkan ke RS Abdul Muluk Bandar Lampung.
Malam itu, Salman menangis. Bukan di hadapan kamera, bukan pula di hadapan warga, tetapi di sudut posko, dalam sepi yang hanya Allah menjadi saksi. Ia ingin pulang, tetapi amanah masih melekat di pundaknya. Dan kemudian, ujian itu mencapai puncaknya.
Sabtu itu, qadarullah, paket data di ponsel Salman habis. Ia tidak menerima pesan atau panggilan apa pun dari rumah. Hingga seorang anggota UAR lain menghampirinya dan menunjukkan sebuah pesan di layar ponsel. Narasinya singkat, namun beratnya tak terukur: “Ibu kami telah dipanggil oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.”
Salman shok. Kaget. Tubuhnya lemas. Sejenak ia tak mampu berkata apa-apa. Ia membaca ulang pesan itu, berharap matanya keliru. Namun takdir tak bisa ditawar. Ibunya telah berpulang, dan ia berada ratusan kilometer jauhnya, di tanah bencana, tak sempat menggenggam tangan terakhir, tak sempat mengantar ke pemakaman.
Kesedihan itu nyata. Namun di balik guncangan batin, Salman berusaha berdiri. “Ini kehidupan akhir manusia,” ujarnya dengan suara tertahan. “Semua pasti akan kembali kepada Allah SWT. Dan takdir harus kita terima.”
Kalimat itu bukan bentuk kepasrahan kosong. Itu adalah iman yang dipeluk erat di saat paling menyakitkan. Salman memilih menenangkan diri, berwudhu, lalu menunaikan shalat. Tangisnya tumpah dalam sujud. Ia mengadukan kehilangan itu hanya kepada Allah—tempat kembali segala duka.
Yang luar biasa, Salman tidak meninggalkan tugasnya. Ia tetap menyelesaikan amanah kemanusiaan di Aceh Tamiang. Ia tetap membantu warga yang bahkan tak tahu bahwa relawan yang menolong mereka baru saja kehilangan ibunya. Di tengah duka pribadi, ia masih sanggup menguatkan orang lain.
Bagi Salman, inilah makna amal shalih yang selama ini ia ajarkan kepada siswanya di Madrasah: berbuat baik bukan saat hidup lapang, tetapi saat hati sedang diuji. Ia percaya, mungkin Allah memilih cara ini untuk memuliakan ibunya—dengan doa seorang anak yang sedang safar dan bertugas di jalan kemanusiaan.
Harapannya kini sederhana namun dalam. “Mudah-mudahan almarhumah diterima oleh Allah SWT,” tuturnya. “Diterima semua amal shalihnya, diterima iman dan Islamnya, dan semoga husnul khatimah.”
Salman tidak meminta pulang, namun koordinator tim UAR, Ir. Hayatdin memutuskan setelah berkoordinasi dengan pimpinan pusat UAR, H. Endang Sudrajat untuk meminta Salman pulang terlebih dahulu ke Lampung atas wafatnya ibu tercinta.
Di tanah bencana, Salman membersihkan lumpur dari rumah-rumah warga. Di dalam dirinya, ia belajar membersihkan luka dengan sabar dan ridha. Ia pulang bukan hanya membawa cerita pengabdian, tetapi juga membawa duka yang dipeluk dengan iman.
Kisah Salman Alfarisi adalah potret nyata relawan kemanusiaan: manusia biasa dengan cinta dan kehilangan, yang tetap memilih setia pada amanah. Di balik rompi UAR yang ia kenakan, ada seorang anak yang tidak sempat mengantar ibunya ke liang lahat—namun mengantarkannya dengan doa-doa terbaik dari tanah pengabdian.
Dan mungkin, di situlah letak kemuliaannya. Sebab tidak semua orang diuji dengan kehilangan, dan tidak semua orang sanggup tetap teguh di jalan kebaikan saat kehilangan itu datang.


