*Harzai karya Rudi Hendrik*
Bab sebelumnya: Harzai Dho Gho
“Kiai, orang ini mengaku Afrizal, seorang santri kita,” kata Ustaz Ridho Abdallah ketika K.H. Jufri tiba.
“Kata Ustaz Firman yang melihat kejadiannya, dia memang Afrizal,” kata Kiai Jufri datar. Ia berdiri memandang sosok gagah di depannya.
“Pak Kiai, saya tidak bersalah, saya tidak berdosa, saya bertauhid, saya tidak menganut ilmu sesat. Tolong kembalikan saya ke wujud saya,” kata Dho Gho dengan suara pelan kepada Kiai Jufri. Wajahnya begitu memelas.
“Ringkus dia!” perintah Kiai Jufri Siraji.
Maka, Ustaz Nurjaya dan Ustaz Ridho maju ke arah Dho Gho. Keduanya yang merupakan guru beladiri itu, serentak memegang kedua tangan kekar Dho Gho dan menguncinya di belakang tubuh si pemuda.
Peringkusan itu membuat suasana tegang. Kondisi lebih menegangkan ketika mereka semua melihat wajah Ustaz Nurjaya dan Ustaz Ridho terkejut. Rasa keterkejutan itu dipicu oleh rasa panas yang tinggi pada tangan Dho Gho yang mereka ringkus. Panasnya bukan seperti panas tubuh yang demam tinggi, tapi panas sepanas api membakar.
“Innalillahi!” pekik Ustaz Nurjaya sambil cepat melepas tangannya.
Hal yang sama dialami dan dilakukan oleh Ustaz Ridho.
Buk! Buk!
Kedua tangan Dho Gho bergerak cepat meninju dada kedua ustaz itu, membuat keduanya terjengkang keras ke lantai lapangan yang terbuat dari semen. Dada pakaian keduanya hangus terbakar akibat tinjuan Dho Gho. Kulit dada kedua guru itu juga mengalami luka bakar yang cukup serius. Tragisnya lagi, keduanya tidak sanggup untuk bangun berdiri kembali, mereka hanya menggeliat kesakitan dan merasa lemah.
Betapa semuanya terkejut menyaksikan hal itu. Sungguh di luar dugaan. Dua guru beladiri ponpes itu tumbang sekali gebrak.
Keterkejutan juga terlihat di wajah dan sikap Dho Gho yang memandangi kedua tangannya yang masih mengepal mengepulkan asap tipis. Kemudian, buru-buru Dho Gho menghampiri tubuh Ustaz Nurjaya.
“Maafkan saya, Ustaz!” ucap Dho Gho menyesal.
“Berhenti!” seru Kiai Jufri cepat, khawatir Dho Gho melakukan tindakan buruk yang mencelakakan.
Dho Gho berhenti mendekati tubuh Ustaz Nurjaya. Melihat tumbangnya kedua pendekar ponpes itu, Kiai Jufri dan ustaz lainnya jadi bingung memikirkan cara untuk meringkus sosok asing itu.
“Menjauh dari mereka, Pemuja Setan!” teriak Kiai Jufri.
Dho Gho pun memilih mundur menjauh beberapa meter.
“Hei, kalian!” teriak Ustaz Rusdi kepada sekerumunan santri lelaki yang terdekat menonton. “Bawa kedua ustaz ke klinik!”
Maka segera datang belasan santri untuk menolong Ustaz Nurjaya dan Ustaz Ridho. Mereka mengangkat dan menggotong pergi kedua tubuh ustaz mereka. Para santri pun jadi tahu bahwa dada dan kedua telapak tangan kedua ustaz melepuh akibat panas yang sepanas api.
“Apa yang harus kita lakukan, Ustaz?” tanya Kiai Jufri berbisik kepada Ustaz Kholil.
“Entahlah, Kiai. Ana pun bingung. Orang ini punya ilmu setan,” jawab Ustaz Kholil.
“Lebih baik ajak dialog, Kiai,” kata Ustaz Rusdi memberi saran dari belakang.
Kiai Jufri pun maju beberapa langkah.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Kiai Jufri kepada Dho Gho.
“Saya Afrizal, Pak Kiai,” jawab Dho Gho.
“Lalu kenapa kamu jadi seperti ini dan punya ilmu setan?” tanya Kiai Jufri mendesak.
“Saya tidak tahu, Pak Kiai. Saya mencangkul di lahan praktik pertanian dan menemukan batu permata. Saat saya mengambilnya, saya langsung berubah jadi seperti ini. Saya tidak mengerti apa-apa. Saya bersumpah demi Allah, saya tidak berniat menyerang para ustaz!” tandas Dho Gho.
Sepengetahuan Kiai Jufri dan para ustaz lainnya, Afrizal adalah santri yang cerdas dan berprestasi baik. Hafalan Al-Qur’an dan hadisnya baik dan kuat. Hari Ahad lalu saja, ia menjuarai kompetisi hafal Al-Baqarah.
“Saya tidak pernah belajar ilmu sesat apa pun, Pak Kiai!” tegas Dho Gho.
“Tapi apa yang kamu tunjukkan kepada kami dan seluruh santri pesantren ini adalah ilmu yang berasal dari setan. Itu musyrik, menduakan Allah!” kata Kiai Jufri keras dan marah.
Zerzzz!
Tiba-tiba dari bawah telapak kaki Dho Gho menyembur ke atas sinar biru hingga menutupi seluruh tubuh Dho Gho. Kejadian itu jelas mengejutkan semuanya, termasuk Dho Gho sendiri.
Ketika sinar biru itu lenyap dengan sendirinya, lenyap pula sosok Dho Gho. Kini yang berdiri di hadapan Kiai Jufri adalah sosok santrinya, yaitu Afrizal. (RH)
Bersambung ke: Martabak 1001 Rasa, Bab8 Harzai karya Rudi Hendrik





