JAKARTA | NEROPONG.COM – Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) KH Bachtiar Nasir menilai Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII memiliki posisi yang sangat strategis di tengah dinamika yang dihadapi umat dan bangsa.
Karena itu, ia berharap seluruh rekomendasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata yang memberi manfaat bagi umat.
“Kehadiran Kongres Umat Islam Indonesia yang ke-8 ini sangat strategis dan sangat diharapkan. Semoga rekomendasinya betul-betul dikerjakan. Kalau kita introspeksi, hasil dua atau tiga kongres sebelumnya masih belum optimal dalam implementasinya,” kata Kiai Bachtiar kepada wartawan usai pembukaan KUII VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat 24 Juli 2026.
Menurut Kiai Bachtiar, setelah memperkuat persatuan ulama, umat, dan bangsa, agenda yang paling mendesak saat ini adalah penguatan ekonomi umat. Ia menilai kongres harus mampu menjawab persoalan riil yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan rumusan yang sulit direalisasikan.
“Menurut saya yang paling prioritas saat ini adalah ekonomi. Kongres ini harus mampu merasakan denyut nadi umat yang sedang kesulitan dan benar-benar bekerja untuk kepentingan umat, bukan untuk kepentingan organisasi masing-masing,” ujarnya.
Kiai Bachtiar menegaskan semangat saling memberi dan mengesampingkan ego kelompok akan menjadi kekuatan besar bagi umat Islam. Dengan persatuan yang dilandasi keikhlasan, menurut dia, umat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk perang hibrida yang kini tidak lagi hanya berbentuk konflik bersenjata.
“Perang sekarang berupa ketahanan pangan dan penguasaan aset-aset negara. Kehadiran umat mudah-mudahan bisa menjadi benteng bagi negara yang sesungguhnya,” katanya.
Menanggapi pesan Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengenai pentingnya sinergi ulama dan umara, Bachtiar menyambut baik ajakan membangun komunikasi yang lebih erat antara pemimpin bangsa dan umat Islam. Namun, ia mengingatkan agar komunikasi tersebut tidak berhenti pada pertemuan seremonial, melainkan diwujudkan dalam program yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Silaturahim itu baik, tetapi jangan berhenti pada romantisme. Yang dibutuhkan adalah kerja-kerja konkret di lapangan,” ujarnya.
Untuk memastikan hasil kongres benar-benar terlaksana, Kiai Bachtiar Nasir mengusulkan pembentukan kelompok kerja (pokja) yang memiliki legitimasi dan dukungan sumber daya yang memadai. Menurutnya, pokja tersebut diperlukan agar seluruh rekomendasi KUII VIII dapat dikawal dan direalisasikan secara berkelanjutan.
“Kita berharap ada pokja yang legitimate, diberi ruang dan dukungan sehingga rekomendasi kongres benar-benar bisa diwujudkan,” katanya.*





