Hadapi Kemarau Panjang, UAR Bentuk Satgas Penanggulangan Bencana Kekeringan di Seluruh Indonesia

BOGOR | NEROPONG.COM – Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) mulai mempersiapkan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kekeringan di seluruh Koordinator Wilayah (Korwil) sebagai langkah antisipasi menghadapi kemarau panjang dampak meluasnya El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2026.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai meningkatnya risiko kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

Bacaan Lainnya

Ketua Umum UAR, H. Endang Sudrajat, ST., MT., mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh Korwil dan Koordinator Daerah (Korda) untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak sekitar tiga bulan terakhir. Instruksi tersebut kemudian dipertegas melalui Surat Ketua Umum UAR Nomor 110/09/YAY.UAR-P/VII/2026 tanggal 16 Juli 2026 tentang Pembentukan Satgas Penanggulangan Bencana Kekeringan.

Beberapa Satgas Penanggulangan Bencana Kekeringan yang sudah terbentuk dan mengirimkan laporannya ke pusat di antaranya UAR Korwil Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan OKU Timur.

“Satgas yang dibentuk nantinya akan mengoordinasikan pemantauan wilayah rawan kekeringan, pendataan kebutuhan masyarakat, edukasi mitigasi bencana, hingga kesiapan distribusi bantuan air bersih,” ujar Endang di Bogor, Jum’at (31/7/2026).

Menurutnya, pembentukan Satgas menjadi bagian dari upaya UAR untuk memperkuat mitigasi bencana berbasis masyarakat sekaligus mendukung pemerintah dalam menghadapi potensi krisis air bersih selama musim kemarau.
Selain melakukan pemetaan wilayah terdampak, Satgas UAR juga akan memperkuat koordinasi dengan berbagai instansi, antara lain Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), BPBD, PMI, Koramil/Kodim, PDAM, serta Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) di tingkat kabupaten maupun provinsi guna mendukung penyediaan dan distribusi air bersih bagi masyarakat.

“Jika membutuhkan bantuan air bersih selama musim kemarau ini, masyarakat dapat berkoordinasi dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) maupun instansi terkait di daerah. Sinergi antara relawan kemanusiaan dan pemerintah akan mempercepat penanganan masyarakat terdampak,” katanya.

Endang juga mengimbau seluruh relawan UAR di wilayah (Korwil) dan daerah (Korda) agar terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan cuaca ekstrem selama musim kemarau.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan BMKG pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Curah hujan rendah mendominasi sekitar 92,93 persen wilayah Indonesia, dengan dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah daerah, di antaranya Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur. Bahkan tiga provinsi, yakni Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur ditetapkan berstatus “Awas”.

BMKG juga melaporkan meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan, segera melaporkan apabila menemukan titik api, serta rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG.

Melalui pembentukan Satgas Penanggulangan Bencana Kekeringan, UAR berharap kesiapsiagaan relawan di seluruh Indonesia semakin meningkat sehingga distribusi bantuan air bersih, edukasi mitigasi, dan penanganan masyarakat terdampak dapat dilakukan secara lebih cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran apabila dampak El Nino semakin meluas. [AM]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *