Manggarai Timur, NTT ll NEROPONG.COM – Perpisahan tidak selalu berarti akhir dari sebuah pertemuan. Bagi relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) dan penyintas gempa Flores di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Senin (5/10/2026) pagi, perpisahan justru menjadi penanda lahirnya ikatan persaudaraan yang lebih dalam.
Setelah sekitar satu setengah bulan mendampingi masyarakat dalam respon tanggap darurat bencana, enam personel UAR menjadi tim terakhir yang berpamitan kepada warga Dusun Waso. Mereka adalah Muqarrobin Al Ayubi, Abdul Kadir Munir, Jawir Julfikar, Abdurrahman Langoday, Ahmad Mukhtar, dan Ihsan Annuha.
Suasana haru terasa ketika para relawan satu per satu menyalami warga. Pelukan erat terjadi antara relawan dan penyintas yang selama berminggu-minggu telah hidup berdampingan, berbagi cerita, membantu satu sama lain, dan bersama-sama melewati masa sulit setelah gempa.
Mewakili tim, Abdul Kadir Munir menyampaikan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat Waso.
“Hari ini kami Ukhuwah Al-Fatah Rescue mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh masyarakat Waso dan mohon maaf atas berbagai kekhilafan kami. Mudah-mudahan Allah jumpakan kita pada kesempatan lain di Waso dan kita jumpa di syurganya Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.
Ucapan tersebut kemudian dibalas oleh tokoh Dusun Waso mewakili masyarakat. Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan dan pendampingan UAR selama berada di tengah masyarakat.
“Kami atas nama masyarakat Dusun Waso mengucapkan terima kasih banyak kepada Ukhuwah Al-Fatah Rescue yang telah memberikan bantuan materi dan dorongan semangat dalam menjalani kehidupan pascabencana. Semoga bantuan yang diberikan mendapatkan balasan kebaikan yang lebih banyak dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkapnya.
Sesaat sebelum berangkat, relawan dan warga saling berjabat tangan dan berpelukan. Tak sedikit yang terlihat berat melepas kepergian orang-orang yang selama ini hadir bukan sekadar sebagai relawan, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Waso.
Suasana kemudian mencair dengan takbir dan yel-yel yang diteriakkan bersama, “Allahu Akbar! Al Aqsa Haqquna!” menjadi penutup yang penuh semangat setelah suasana haru menyelimuti perpisahan.
Berat hati perpisahan juga dirasakan anak-anak penyintas yang setiap sore mendampat pendampingan psikosial dari Bunda Novie Avianti dan belajar mengaji dari Ustadz Ihsan Annuha, relawan UAR.
Dalam percakapan WhatsApp (WA) salah satu anak di pengungsian mengungkapkan perasaannya. “Bunda sudah pulang, juga ustadz Ihsan. Sedih kami tidak ada yang mengajar ngaji,” kata Liana dalam screenshot percakapan WA yang dikirim Novi Avianti.
Dari Dusun Waso, keenam relawan kemudian melanjutkan perjalanan darat menggunakan tiga sepeda motor menuju Larantuka dan Lembata, NTT. Sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu berpamitan kepada Camat Lamba Leda Utara, Emilianus Hardjonit, di kantornya sekaligus mengurus surat jalan.
“Hari ini semua relawan sudah meninggalkan Dusun Waso. Kami enam ikhwan kembali menggunakan jalan darat dengan tiga sepeda motor menuju Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur,” kata Jawir Julfikar melalui pesan singkat, Senin (5/10/2026).
Kabar perpisahan tersebut juga sampai kepada Ketua Umum UAR, H. Endang Sudrajat. Setelah menerima video momen perpisahan relawan dengan warga Waso, ia mengungkapkan rasa harunya.
“Allahu Akbar! Ya Allah, mudahkan Tim UAR bersama pimpinan daerah (niyabah) dan wilayah bersangkutan dalam menjaga silaturahmi yang telah terjalin,” ujarnya.
Ucapan serupa disampaikan Novie Avianti, yang telah lebih dahulu kembali ke Bogor. “Fie amanillah para ikhwan semua,” pesannya.
Bagi masyarakat Waso, kepergian para relawan bukanlah akhir hubungan. Mereka berharap persaudaraan yang terjalin selama masa tanggap darurat tetap terjaga. Perpisahan pagi itu pun diyakini bukan sebagai “selamat tinggal”, melainkan “sampai berjumpa kembali”.
Para penyintas bencana berharap UAR tidak melupakan Dusun Waso. Ketika suatu hari nanti para relawan kembali, masyarakat siap menyambut mereka bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai saudara dan keluarga. [AM]





