Bandar Lampung, NEROPONG.COM – Tiga relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Korwil Lampung turut ambil bagian dalam operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Operasi SAR gabungan tersebut resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari dengan hasil pencarian nihil.
Ketiga relawan UAR tersebut adalah Khoirul Mustofa, Nur Hadis, dan Sukimang. Mereka bergabung dalam operasi SAR sejak Senin 14 September 2026 dan bersama Tim SAR Gabungan melakukan penyisiran menggunakan KN SAR Basudewa.
Dalam operasi tersebut, tim gabungan melakukan pencarian di sejumlah sektor, termasuk Zona Z di sekitar perairan Pulau Tabuan, Teluk Semangka, Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Pencarian melibatkan unsur Basarnas, TNI, Polairud, BPBD, serta potensi SAR lainnya. Tim gabungan menyisir wilayah laut untuk menemukan keberadaan kapal Arupadhatu beserta delapan orang yang berada di dalamnya.
“Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal secara resmi dihentikan setelah 10 hari operasi SAR. Hasilnya nihil,” kata Nur Hadis, relawan UAR Lampung, saat dihubungi melalui telepon setelah tiba di Dermaga Basarnas Panjang menggunakan Kapal SAR 224, Kamis malam 17 September 2026.
Menurut Nur Hadis, meski operasi SAR gabungan secara resmi dihentikan, upaya pencarian masih dapat kembali dilakukan apabila ditemukan informasi atau petunjuk baru mengenai keberadaan kapal maupun para penumpangnya.
Penghentian operasi SAR dilakukan setelah masa pencarian selama tujuh hari ditambah perpanjangan tiga hari berakhir. Selama operasi, tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan Arupadhatu maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, keputusan menghentikan operasi dilakukan setelah evaluasi menunjukkan pencarian sudah tidak efektif. Menurutnya, sejak hari pertama hingga hari ke-10, termasuk masa perpanjangan, belum ditemukan tanda keberadaan kapal maupun penumpangnya.
“Dengan berat hati, operasi SAR gabungan ini dinyatakan dihentikan oleh pihak yang berwenang,” kata Andra dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (17/9/2026).
Pemantauan Tetap Dilakukan
Meskipun operasi pencarian aktif telah dihentikan, pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan Arupadhatu 1 dan para penumpangnya tetap dilakukan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan pemantauan dilakukan melalui jaringan SROP VTS, Lanal, Polairud, serta aktivitas kapal-kapal yang melintas di wilayah Selat Sunda.
Menurut Al Amrad, operasi SAR dapat kembali dibuka apabila ditemukan tanda-tanda atau informasi baru yang dapat mengarah pada keberadaan kapal maupun para penumpangnya.
Tabur Bunga
Usai pencarian gabungan dihentikan, keluarga para jurnalis dan kru kapal KM Arupadatu I yang hilang kontak di Selat Sunda menggelar tabur bunga di titik koordinat dugaan hilangnya speedboat tersebut.
Tabur bunga dilakukan dari atas kapal KN SAR Tetuka yang bertolak dari Pelabuhan Pelindo 3 Ciwandan, Kota Cilegon. Selain keluarga korban, kapal Basarnas juga membawa serta sejumlah rekan media yang ingin memberikan penghormatan dan doa di lokasi kejadian.
Operasi pencarian Arupadhatu 1 bermula setelah kapal yang membawa rombongan jurnalis untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin 7 September 2026. Kapal tersebut kemudian hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoerunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, dan Donal Husni, jurnalis lepas. Tiga lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman selaku ABK, dan Heriyanto selaku pemandu.
Bagi UAR Lampung, keterlibatan tiga relawan dalam operasi tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus hadir ketika operasi kemanusiaan membutuhkan tenaga dan kesiapsiagaan, membantu pencarian serta pertolongan korban bersama unsur terkait. [AM]





