Riyadh, Neropong.com – Shalat meminta hujan atau Shalat Istisqa dilaksanakan di masjid-masjid di seluruh wilayah Kerajaan Arab Saudi pada Kamis 13 November 2025 pagi. Ritual ini sejalan dengan arahan Wali Kota Dua Masjid Suci, Raja Salman, yang mengikuti Sunah Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan sholat ketika hujan dibutuhkan.
Para imam juga menyampaikan khutbah pada kesempatan tersebut. Ratusan ribu orang jamaah, termasuk jamaah umrah dan pengunjung, menghadiri sholat yang diselenggarakan di Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di Masjidil Haram di Makkah, sholat dipimpin oleh Imam dan Khatib Syekh Yasser Al-Dosari.
Mereka yang melaksanakan sholat antara lain Wakil Emir Makkah, Pangeran Saud bin Misyal, dan Kepala Kepresidenan untuk Perawatan Dua Masjid Suci, Syekh Abdulrahman Al-Sudais. Dalam khotbahnya, Syekh Yasser Al-Dosari menekankan, ketakwaan merupakan sebab dipanjangkannya rezeki dan umur, serta turunnya berkah dari langit berupa hujan, dan berkah dari bumi berupa tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan.
Di Masjid Nabawi, Emir Madinah, Pangeran Salman bin Sultan, termasuk di antara mereka yang menghadiri salat Idul Adha yang dipimpin oleh Imam dan Khatib Syekh Ahmed bin Ali Al-Hudhaifi diikutip dari laman Saudi Gazette, Jumat (14/11/2025).
Di Riyadh, Emir Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar, dan Wakil Emir, Pangeran Mohammed bin Abdulrahman, melaksanakan sholat Idul Adha bersama jamaah di Masjid Imam Turki bin Abdullah.
Untuk diketahui, para ulama fikih mendefinisikan sholat Istisqa sebagai shalat sunah muakadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.
Salat istisqa telah dipraktikkan di zaman Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah disebutkan:
“Nabi Muhammad SAW keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau shalat dua rekaat bersama kita tanpa Azdan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah SWT dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya (HR Imam Ahmad). []






