Jakarta | NEROPONG.COM — Ketua Umum Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) KH Bachtiar Nasir mengungkapkan pengalaman personalnya selama menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Ia menyebut pendidikan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan karakternya hingga saat ini.
“Saya sebagai host tegas mengatakan di mana-mana, 75 persen karakter saya, saya peroleh dari Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur,” kata KH Bachtiar Nasir atau karib disapa UBN dalam SAJID Friday Morning Talk bertema “Tantangan Abad Kedua Gontor” di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat 4 September 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan UBN ketika berbicara mengenai perjalanan Gontor yang akan memasuki usia 100 tahun pada 2026. Menurut dia, pengaruh Gontor terhadap alumninya tidak hanya terlihat dari pengetahuan yang diperoleh selama berada di pesantren, tetapi juga dari pembentukan karakter dan cara menjalani kehidupan.
UBN menilai pengalaman yang ia rasakan menjadi salah satu gambaran mengenai kekuatan sistem pendidikan Gontor. Menurut dia, Gontor berhasil membangun sistem pendidikan yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian santri.
Ia kemudian menyoroti perkembangan pendidikan tinggi Gontor yang dinilainya semakin memperluas warisan sistem tersebut. Menurut UBN, penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam lingkungan pendidikan menjadi salah satu karakter yang membedakan pendidikan Gontor.
“Di mana penyampaian dalam bahasa Arab dan Inggris berjalan di sana, dan mahasiswa-mahasiswa juga tetap mewarisi,” ujarnya.
Menurut UBN, kekuatan tersebut juga dirasakan mahasiswa yang tidak seluruhnya berasal dari KMI. Mereka tetap dapat menikmati lingkungan pendidikan yang berada dalam naungan nilai dan ruh yang diwariskan Gontor.
UBN menilai perjalanan Gontor selama hampir satu abad menunjukkan bahwa lembaga pendidikan yang didirikan para tokoh tidak selalu berakhir bersama wafatnya pendiri. Sebaliknya, Gontor mampu terus berkembang karena memiliki sistem dan nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Di dunia ini ada dua jenis lembaga pendidikan yang didirikan oleh tokoh. Yang pertama, ketika tokohnya mati, lembaganya pun mati. Yang satu, ketika tokohnya wafat, tetapi lembaganya terus ada dan berkembang,” kata dia.
Dalam konteks memasuki abad kedua, UBN mempertanyakan bagaimana pengalaman dan warisan pendidikan tersebut akan diteruskan Gontor kepada generasi mendatang.
Menurut dia, Gontor memiliki tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai fundamental yang telah membentuk para alumninya, sekaligus memperluas kontribusinya di tengah perubahan zaman.
“Pertanyaannya adalah: Abad kedua Gontor, apa yang akan terjadi?” ujar UBN.
Ia berharap Gontor tidak hanya mempertahankan warisan yang telah dibangun selama satu abad, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi Indonesia dan dunia.
“Ada sesuatu yang besar yang Gontor pertahankan, tetapi ada sesuatu yang besar juga yang akan diberikan bukan cuma untuk Indonesia tetapi untuk dunia,” ujarnya.*





