Manggarai Timur | NEROPONG.COM – Puluhan anak usia sekolah yang masih tinggal di tenda pengungsian di Dusun Waso, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti kegiatan pembelajaran dan trauma healing bersama psikolog yang akrab disapa Bunda Heni.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelayanan kemanusiaan relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Korwil NTT untuk membantu pemulihan psikologis sekaligus memberikan pendampingan pendidikan bagi anak-anak terdampak gempa bumi Flores.
Bunda Heni merupakan Kepala RA Taman Buah Hati Gedangan, Sidoarjo, yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Psikologi. Ia juga dipercaya sebagai Koordinator Muslimat Jamaah Muslimin Wilayah Jawa Timur.
Bunda Heni tiba di Dusun Waso pada akhir Agustus 2026 atas amanat Pembina UAR Korwil Jawa Timur dan dukungan Pembina UAR NTT. Kehadirannya ditujukan untuk memperkuat pelayanan relawan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pendampingan psikologis bagi anak-anak penyintas gempa.
Selain memberikan pendampingan, Bunda Heni membawa bahan ajar IQRA dan Mushaf Al-Qur’an untuk digunakan anak-anak di lokasi pengungsian. Ia juga menyerahkan titipan donasi dari PD IGRA Sidoarjo sebesar Rp5 juta kepada Posko UAR Dusun Waso untuk mendukung operasional misi kemanusiaan.
Kegiatan di Musala Darurat
Kegiatan pembelajaran dan pendampingan dilaksanakan di musala darurat yang didirikan relawan bersama warga setempat. Setiap sore selepas shalat Ashar dan setelah shalat Isya, puluhan anak laki-laki dan perempuan berkumpul untuk mengikuti kegiatan mengaji dan pembelajaran.
Bunda Heni mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berisi pembelajaran agama, tetapi juga berbagai aktivitas yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.
“Kegiatan antara lain berkisah, pembiasaan baik, pemantapan adab yang baik, pembiasaan kedisiplinan, pemantapan sosial emosional anak, thoharoh, mengaji, game edukatif, cek dan potong kuku anak-anak,” ungkapnya.
Kegiatan mengaji dan shalat berjamaah sendiri telah berlangsung sebelum kedatangan Bunda Heni. Relawan UAR, Ihsan Annuha, yang telah berada di lokasi sejak 16 Agustus bersama relawan UAR Korwil NTT lainnya, secara rutin membimbing anak-anak di pengungsian.
Menurut Bunda Heni, anak-anak juga diberi kesempatan untuk bercerita mengenai pengalaman mereka selama gempa dan berada di pengungsian. Ia mendengarkan cerita serta keluhan anak-anak dan orang tua sebagai bagian dari proses pendampingan psikologis.
“Anak-anak banyak yang minta dilayani, meski hanya memotong kuku mereka,” katanya melalui pesan singkat.
Gunakan Pendekatan Keagamaan
Dalam kegiatan trauma healing, Bunda Heni menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan dunia anak dan nilai-nilai keagamaan. Salah satunya melalui kisah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
“Kami memulai dengan berkisah tentang kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai utusan Allah di bumi untuk semua umat manusia. Ini kami maksudkan supaya anak-anak lebih mengenal siapa Nabi Muhammad itu,” ujarnya.
Kegiatan mengaji anak-anak kadang juga diawali dengan murajaah (mengulang) hafalan Al-Qur’an supaya tidak lupa. “ Kegiatan mengaji bakda Isya kami awali dengan murojaah Juz 30,” kata Bunda Heni, Kamis, 3 September 2026.
Anak-anak juga mendapatkan pendampingan mengenai tata cara wudhu dan shalat yang benar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Selain itu, mereka diajarkan cara memperlakukan dan meletakkan Al-Qur’an dengan baik sebagai bentuk penghormatan terhadap kitab suci.
Bunda Heni berharap kegiatan pendampingan tersebut dapat membantu anak-anak kembali memperoleh rasa aman dan mengurangi ketakutan akibat pengalaman gempa.
“Semoga dengan pendampingan ini kondisi psikologis anak-anak dapat berangsur pulih. Mereka tidak lagi terus-menerus merasa takut akibat pengalaman gempa yang mereka alami,” harapnya.
Pendampingan anak-anak tersebut menjadi salah satu bentuk pelayanan UAR NTT dalam masa tanggap darurat pascagempa Flores 15 Agustus 2026. Selain bantuan kebutuhan dasar, pendampingan pendidikan dan psikologis dinilai penting untuk mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak bencana. [AM]





