UAR Pusat Tegaskan Pembentukan Satgas Nasional Penanggulangan Bencana Kekeringan

BOGOR, – Pengurus Pusat Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) kembali menegaskan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño dengan menginstruksikan pembentukan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kekeringan (Satgas PB Kekeringan) di seluruh Koordinator Wilayah (Korwil) dan Koordinator Daerah (Korda) UAR se-Indonesia.

Instruksi tersebut tertuang dalam Surat Imbauan Nomor 110/09/YAY.UAR-P/VII/2026 yang diterbitkan pada 16 Juli 2026, sebagai tindak lanjut dari imbauan nasional yang sebelumnya telah disampaikan Ketua Umum UAR pasca Seminar Nasional “El Niño 2026” di STAI Al-Fatah Cileungsi, Bogor.

Bacaan Lainnya

Ketua Umum UAR H. Endang Sudrajat, S.T., M.T. mengatakan, langkah pembentukan Satgas PB Kekeringan merupakan bentuk penegasan komitmen organisasi setelah sebelumnya UAR mengeluarkan imbauan nasional kewaspadaan terhadap ancaman El Niño pada 29 April 2026. Saat itu, seluruh anggota UAR diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta krisis air bersih.

“Sehubungan dengan meningkatnya potensi bencana kekeringan di berbagai wilayah Indonesia yang dapat berdampak pada krisis air bersih, kebakaran lahan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, serta aktivitas sosial kemasyarakatan, Pengurus Pusat UAR menghimbau seluruh Korwil, Korda, dan anggota UAR untuk segera membentuk Satgas Penanggulangan Bencana Kekeringan di wilayah masing-masing,” demikian penegasan Endang Sudrajat dalam surat imbauan tersebut.

Endang menjelaskan, pembentukan Satgas bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan, mempercepat koordinasi, dan mengoptimalkan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat yang terdampak bencana kekeringan. Satgas juga diharapkan segera melakukan pemetaan daerah rawan, berkoordinasi dengan BPBD, BASARNAS, PMI, PDAM, pemerintah daerah, serta menyiapkan personel dan sarana pendistribusian air bersih.

Peringatan mengenai potensi dampak El Niño juga terus disampaikan BMKG. Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Dr. Supari, menjelaskan bahwa El Niño yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau berpotensi menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

“El Niño yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-ratanya. Dampak yang perlu diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi kering, yaitu kekeringan dan karhutla,” kata Supari dalam Seminar Nasional Kesiapsiagaan Menghadapi El Nino 2026 di Bogor.

Menurut BMKG, wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling besar meliputi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua. Masyarakat serta pemerintah daerah diminta melakukan langkah mitigasi sejak dini, termasuk menghemat penggunaan air dan memperkuat kesiapan menghadapi kekeringan.

Melalui langkah tersebut, UAR berharap seluruh jajarannya di berbagai daerah siap bergerak cepat membantu masyarakat apabila dampak kekeringan semakin meluas selama musim kemarau 2026. UAR juga akan terus memperkuat sinergi dengan BMKG dalam penyebarluasan informasi dan edukasi kebencanaan agar upaya mitigasi dapat dilakukan secara lebih dini dan efektif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *